TEHERAN, Mevin.ID – Republik Islam Iran resmi mengonfirmasi kabar meninggalnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Kabar duka ini disampaikan langsung melalui media pemerintah pada Minggu (1/3/2026), memicu duka mendalam yang menyelimuti seluruh negeri.
Dalam siaran televisi nasional, para presenter tampak tak kuasa menahan air mata saat mengumumkan bahwa Khamenei telah gugur sebagai martir akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
40 Hari Masa Berkabung Nasional
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari untuk menghormati pemimpin yang telah berkuasa sejak tahun 1989 tersebut.
Kematian Khamenei menjadi pukulan telak bagi struktur kekuasaan Iran, mengingat perannya yang sentral sejak menggantikan Ayatollah Khomeini pasca-revolusi teokratis.
Tragedi ini juga dilaporkan merenggut nyawa anggota keluarga Khamenei lainnya. Sejumlah media internasional, termasuk BBC, menyebutkan bahwa anak perempuan, cucu, serta menantu laki-laki dan perempuan sang pemimpin turut menjadi korban dalam serangan brutal tersebut.
Janji Balas Dendam Garda Revolusi (IRGC)
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan resmi melalui kantor berita Fars yang menegaskan bahwa kematian Khamenei tidak akan dibiarkan begitu saja.
“Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar. Kemartiran Khamenei di tangan teroris paling kejam adalah tanda legitimasi perjuangannya,” tulis pernyataan IRGC sebagaimana dikutip dari Aljazeera.
IRGC juga mengirimkan peringatan keras kepada pihak-pihak yang terlibat:
“Tangan pembalasan bangsa Iran tidak akan membiarkan mereka lolos. Kami akan berdiri tegas dalam menghadapi konspirasi domestik maupun asing.”
Eskalasi Timur Tengah di Titik Didih
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump bersama pejabat militer Israel telah mengklaim keberhasilan serangan tersebut.
Namun, konfirmasi resmi dari pihak Teheran baru keluar hari ini, yang sekaligus menandai berakhirnya era kepemimpinan Khamenei selama lebih dari tiga dekade.
Kematian tokoh paling berpengaruh di Iran ini diprediksi akan mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara radikal dan memicu kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka dalam skala yang lebih luas.***
Editor : Bar Bernad


























