Ekonom: Demo Dipicu Kondisi Ekonomi, Bukan Ditunggangi

- Redaksi

Sabtu, 30 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengunjuk rasa melakukan aksi 28 Agustus 2025 di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

Pengunjuk rasa melakukan aksi 28 Agustus 2025 di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

Jakarta, Mevin.ID — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai aksi demonstrasi di berbagai daerah pada 28–29 Agustus 2025 murni dipicu kondisi ekonomi nasional, bukan karena ditunggangi pihak tertentu.

Menurut Bhima, kemarahan masyarakat muncul akibat kegagalan pemerintah dalam memperbaiki lapangan kerja dan mengurangi ketimpangan. “Murni kemarahan publik. Pemerintah gagal dalam kebijakan ekonomi,” ujarnya, Jumat (29/8).

Bhima menilai risiko ekonomi semakin memburuk lantaran ketidakpuasan publik tidak direspons serius. Tuntutan masyarakat terkait reformasi perpajakan dan efisiensi anggaran justru diabaikan. Kondisi ini, kata Bhima, menimbulkan ketidakpercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Ia juga menyoroti ketidaksesuaian antara data pertumbuhan ekonomi 5,12 persen pada kuartal II 2025 yang diumumkan pemerintah dengan realita di lapangan. “Hampir mustahil ekonomi tumbuh di atas 5 persen ketika daya beli rendah dan masyarakat marah,” tegasnya.

Gelombang demo sendiri dipicu tragedi tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online berusia 21 tahun yang dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta Pusat, Kamis (28/8). Affan bukan peserta aksi, melainkan sedang mengantarkan pesanan makanan. Peristiwa ini memicu kemarahan publik yang meluas ke berbagai kota, termasuk Bandung, Surabaya, dan Solo.

Selain menuntut keadilan bagi Affan, massa juga memprotes tingginya gaji dan tunjangan DPR. Hingga Jumat malam, aksi masih berlangsung di sejumlah titik, diwarnai bentrokan antara massa dan aparat.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Transformasi Besar BUMN 2026, Danantara Targetkan Pangkas 1.043 Perusahaan Menjadi 300 Tanpa PHK
Projo Desak Percepatan “Tech-Savvy Farming” Guna Jaga Ketahanan Pangan Nasional
Solusi Praktis Tambal Jalan: Cold Patch JMTM-31 Bertransformasi Jadi Travoy Patch, Bisa Digunakan Saat Hujan!
Pasokan Bahan Baku Keramik Nasional Terancam, Menperin Hubungi KDM Bahas Moratorium di Jabar
Tak Berizin 10 Tahun, KKP Segel Tambak Udang Perusahaan Asing di Lombok Timur
IHSG Sempat ‘Kebakaran’, Bareskrim Polri Buru Dalang di Balik Indikasi ‘Saham Gorengan’
Dirut BEI Iman Rachman Mundur, Mensesneg: Itu Keputusan Sendiri, Bukan Arahan Pemerintah
Geger Sektor Keuangan! 3 Petinggi OJK Mundur Beruntun Usai Dirut BEI Letakkan Jabatan

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 13:12 WIB

Transformasi Besar BUMN 2026, Danantara Targetkan Pangkas 1.043 Perusahaan Menjadi 300 Tanpa PHK

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:59 WIB

Projo Desak Percepatan “Tech-Savvy Farming” Guna Jaga Ketahanan Pangan Nasional

Senin, 9 Februari 2026 - 18:08 WIB

Solusi Praktis Tambal Jalan: Cold Patch JMTM-31 Bertransformasi Jadi Travoy Patch, Bisa Digunakan Saat Hujan!

Kamis, 5 Februari 2026 - 09:06 WIB

Pasokan Bahan Baku Keramik Nasional Terancam, Menperin Hubungi KDM Bahas Moratorium di Jabar

Selasa, 3 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tak Berizin 10 Tahun, KKP Segel Tambak Udang Perusahaan Asing di Lombok Timur

Berita Terbaru

Berita

Gegara Data Pelamar Bocor, Komdigi Nonaktifkan 3 Pejabat

Rabu, 11 Feb 2026 - 14:44 WIB