TEHERAN, Mevin.ID – Republik Islam Iran kini tengah menghadapi salah satu krisis ekonomi terdahsyat dalam sejarahnya. Nilai tukar mata uang nasional Iran, Rial, dilaporkan anjlok drastis hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada Selasa (13/1/2026).
Ketidakstabilan politik dan gelombang protes besar-besaran yang meluas di berbagai wilayah negara tersebut menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar Rial terhadap mata uang asing.
Angka yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data terbaru, kejatuhan Rial mencatat angka yang sangat mencolok. Saat ini, nilai tukar berada pada level:
- 1 Dolar AS: setara dengan 1.137.500,00 Rial.
- 1 Euro: setara dengan 1.327.240,69 Rial.
Sebagai perbandingan, pada awal tahun 2025, nilai tukar Rial masih berada di kisaran 700 ribu per dolar AS. Bahkan, di pasar keuangan Eropa, Rial dilaporkan sudah tidak lagi diterima untuk ditukarkan, yang semakin mengisolasi Iran dari sistem keuangan global.
Faktor Penyebab Krisis
Anjloknya nilai mata uang ini merupakan akumulasi dari berbagai tekanan berat, di antaranya:
- Sanksi Internasional: Pemberlakuan kembali sanksi ekonomi oleh PBB pada September 2025 terkait program nuklir.
- Pasca-Perang: Dampak finansial akibat konflik bersenjata selama 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 yang merusak infrastruktur.
- Inflasi Gila-gilaan: Harga bahan pangan melonjak hingga 72%, sementara inflasi tahunan berada di angka 40%.
- Kebijakan Subsidi: Penghapusan nilai tukar khusus untuk impor dan kenaikan harga bahan bakar bensin yang memicu amarah publik.
Kerusuhan dan Ketidakpastian Politik
Krisis ekonomi ini memicu gelombang protes sejak akhir Desember 2025 yang dimulai dari para pedagang di Grand Bazaar Teheran.
Demonstrasi kini telah menyebar ke 31 provinsi dengan tuntutan perubahan pemerintahan.
Bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan dilaporkan telah menelan ratusan korban jiwa.
Kondisi ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan pada mata uang nasional dan berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke dolar, emas, hingga mata uang kripto untuk menyelamatkan nilai kekayaan mereka.
Hingga saat ini, situasi di Iran masih sangat mencekam. Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) terus memantau kondisi WNI di sana, meskipun hingga berita ini diturunkan, status evakuasi belum dinyatakan perlu dilakukan.***
Editor : Bar Bernad
























