BANDUNG, Mevin.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung secara resmi menghentikan operasional seluruh alat pengolahan sampah berbasis teknologi termal atau insinerator di seluruh Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Keputusan ini diambil menyusul hasil uji emisi yang menunjukkan kadar polusi melebihi ambang batas yang ditentukan.
Penyegelan fasilitas insinerator ini merupakan tindak lanjut dari surat instruksi Menteri Lingkungan Hidup yang diterbitkan pada 19 Januari 2026.
15 Insinerator Aktif Berhenti Beroperasi
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq, menjelaskan bahwa dari total 19 unit pengolah kawasan, terdapat 15 unit insinerator yang masih aktif sebelum penyegelan dilakukan.
“Hasil uji emisi dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan ambang batas emisi melebihi ketentuan. Salah satu yang sudah disegel adalah fasilitas di TPS Baturengat,” ujar Salman dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Meskipun Pemkot sempat melakukan uji ulang melalui Sucofindo, operasional tetap harus dihentikan demi mematuhi regulasi lingkungan pusat.
Salman menegaskan bahwa yang disegel hanyalah fasilitas pembakarannya, bukan area TPS secara keseluruhan.
Strategi Baru: Program “Gaslah”
Sebagai alternatif pasca-penghentian teknologi termal, Pemkot Bandung kini fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya melalui program Gaslah (Petugas Pengolah Sampah).
Sebanyak 1.596 RW di Kota Bandung kini memiliki petugas khusus yang bertugas:
- Melakukan pemilahan sampah langsung dari rumah tangga.
- Mengolah sampah organik di tingkat kelurahan.
- Menargetkan setiap RW mampu mengolah minimal 25 kg sampah organik per hari.
Belajar dari Keberhasilan Banyumas
Di saat yang bersamaan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan melakukan kunjungan kerja ke Banyumas, Jawa Tengah, untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Farhan mengakui bahwa Kota Bandung masih memiliki tantangan besar karena baru mampu mengolah 22 persen dari total 1.500 ton sampah harian.
Angka ini jauh tertinggal dari Banyumas yang sudah mencapai rasio olah 78 persen tanpa menggunakan insinerator sejak 2018.
“Banyumas berhasil karena membangun ekosistem dan integritas tata kelola. Kami ingin belajar bagaimana menjaga keberlanjutan tersebut tanpa bergantung pada teknologi termal yang berisiko bagi lingkungan,” pungkas Farhan.***


























