Langkat, Mevin.ID — Di tengah lumpuhnya akses, hilangnya harapan, dan perut yang terus merintih, satu hal kembali terbukti: negara selalu paling lambat datang ketika rakyat paling membutuhkannya.
Di Kecamatan Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, banjir bukan lagi satu-satunya bencana. Yang lebih menyesakkan justru adalah darurat kelaparan yang melilit warga selama empat hari tanpa pertolongan.
Bantuan Tak Datang, Kesabaran Warga Robek
Sabtu (29/11/2025) siang menjadi titik jenuh. Bantuan yang dijanjikan tak pernah tiba, posko tak kunjung berfungsi, dan stok pangan di rumah warga habis. Dalam kondisi terisolasi total, ratusan warga akhirnya mengambil jalan yang paling tidak mereka inginkan: menerobos Alfamart di Kelurahan Pekan Tanjung Pura demi sekadar bertahan hidup.
Ini bukan tindakan kriminal yang lahir dari niat jahat. Ini adalah reaksi paling manusiawi dari rasa lapar yang tak bisa ditunda.
@klasberita.netBantuan Tak Kunjung Datang, Alfamart Dijarah Warga Langkat – Bantuan untuk korban banjir di Kecamatan Tanjung Pura tak kunjung datang. Warga yang kelaparan menjarah toko ritel moderen Alfmart di Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat, Sabru (29/11/2025) siang. Dari video yang beredar, warga kesulitan mencari bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Uang yang mereka punya pun tak berarti, karena aktivitas perdagangan lumpuh total. Empat hari menanti, bantuan dari pemerintah tak kunjung datang. Alhasil, dengan inisiatif yang juga tak dibenarkan, warga meringsek masuk ke toko ritek tersebut dan menjarah barang-barang. Tak hanya Alfamart, ritel moderen lainnya seperti Alfamidi dan Indomaret di sana juga jadi sasaran penjarahan warga. #Banjir #Tanjungpura #Indomaret #Alfamart #Langkat
Video Viral: Ketika Uang Tak Lagi Ada Gunanya
Cuplikan video yang menyebar di media sosial memperlihatkan kepanikan yang bercampur keputusasaan. Pria, perempuan, bahkan ibu-ibu dengan wajah pucat kelelahan menembus pintu toko, mengambil popok, susu, mi instan—barang-barang yang seharusnya sudah tiba melalui jalur bantuan resmi.
“Uang kami tak berarti apa-apa, Bang,” ujar seorang warga kepada Mevin.ID.
“Empat hari isolasi. Empat hari tanpa satu pun bantuan pemerintah. Mau beli di mana? Pasar mati total.”
Ketika negara tak hadir, insting bertahan hidup mengambil alih.
Ritel Lain Ikut Jadi Sasaran: Bukan Aksi, Tapi Alarm
Penjarahan tidak berhenti di satu toko. Laporan tim Mevin.ID di lapangan menyebutkan bahwa Indomaret dan Alfamidi di area sekitar juga mengalami hal serupa. Ini bukan sekadar tindakan massa—ini adalah indikator krisis pangan akut, gejala awal dari kekacauan sosial yang bisa meluas.
Kegagalan distribusi bantuan, lambannya koordinasi, dan lemotnya respon darurat menjadi bom waktu yang meledak di depan mata.
Di tengah bencana seperti ini, kehadiran negara seharusnya lebih cepat dari runtuhan jembatan, lebih gesit dari arus banjir, lebih sigap dari video viral yang menyebarkan kepedihan.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya—birokrasi tidur, perut rakyat kosong.
Langkat Mengirim Sinyal Keras
Peristiwa ini adalah cermin, meski retak dan menyakitkan. Ia memperlihatkan wajah asli penanganan bencana kita: penuh janji, miskin aksi.
Di tengah banjir yang tak kunjung surut, satu fakta menyembul paling jelas:
yang paling cepat datang bukan bantuan—melainkan keputusasaan.***


























