JAKARTA, Mevin.ID – Sejumlah wilayah di Indonesia tengah dalam kondisi siaga akibat beruntunnya musibah pergerakan tanah dan kemunculan fenomena sinkhole (lubang amblas) sejak awal tahun 2026.
Intensitas hujan yang tinggi disebut menjadi pemicu utama rapuhnya stabilitas permukaan tanah di zona-zona rentan.
Salah satu kejadian paling masif dilaporkan terjadi di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, di mana pergerakan tanah memaksa lebih dari 2.400 warga mengungsi sejak 6 Februari lalu.
Kejadian serupa juga melanda wilayah Tasikmalaya, Semarang, hingga munculnya lubang raksasa di Gunungkidul dan Sumatera Barat.
Pemicu Utama: Kejenuhan Air & Tekanan Pori
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa bencana ini sangat erat kaitannya dengan puncak musim hujan.
Karakter tanah di Indonesia yang memiliki lapisan pelapukan tebal sangat rentan saat terpapar curah hujan durasi panjang.
“Air hujan meresap ke dalam pori-pori tanah hingga mencapai titik jenuh. Kondisi ini meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kekuatan geser tanah, sehingga lereng yang kritis menjadi tidak stabil dan bergerak,” jelas Lana Saria (23/2/2026).
Mengapa Sinkhole Bermunculan?
Fenomena sinkhole atau lubang amblas secara mendadak juga menjadi sorotan. Menurut Badan Geologi, fenomena ini umumnya berkembang di daerah dengan batuan karbonat (batu gamping/karst).
- Mekanisme: Air hujan yang sedikit asam melarutkan batuan dan membentuk rongga bawah tanah.
- Pemicu Runtuh: Ketika rongga semakin besar dan atap tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya, terjadilah amblesan mendadak.
- Kasus Terbaru: Selain di Gunungkidul, sinkhole berdiameter 10 meter dengan kedalaman 5,7 meter muncul di persawahan Nagari Situjuah Batua, Sumatera Barat, pasca banjir bandang akhir tahun lalu.
Daftar Wilayah Terdampak (Januari – Februari 2026)
|
Wilayah |
Waktu Kejadian |
Dampak / Fenomena |
|---|---|---|
|
Kab. Tegal, Jateng |
6 Februari 2026 |
2.400+ warga mengungsi, tanah bergerak aktif. |
|
Kab. Tasikmalaya, Jabar |
16 Februari 2026 |
2 rumah rusak berat, 47 KK terancam. |
|
Kota Semarang, Jateng |
18 Februari 2026 |
Pergerakan tanah di Tembalang sejak Januari. |
|
Gunungkidul, DIY |
7 Januari 2026 |
Sinkhole muncul di area rumah warga (kedalaman 4m). |
|
Limapuluh Kota, Sumbar |
4 Januari 2026 |
Sinkhole diameter 10m di area persawahan. |
Tata Ruang Jadi Kunci Mitigasi
Badan Geologi menegaskan bahwa Indonesia secara alami berada pada zona tektonik aktif dengan kerentanan geologi menengah hingga tinggi. Masalah utama bukan hanya pada cuaca, melainkan pada implementasi tata ruang yang belum disiplin.
Rekomendasi Teknis untuk Pemerintah Daerah:
- Dilarang Membangun: Tidak mengembangkan pemukiman baru di zona gerakan tanah aktif.
- Drainase Ketat: Mengatur sistem pembuangan air permukaan agar tidak meresap liar ke dalam tanah.
- Kajian Geoteknik: Mewajibkan kajian geologi sebelum membangun perumahan skala besar (cut and fill).
- Relokasi: Pemindahan permanen warga yang tinggal di zona rayapan aktif.
“Jika tata ruang tidak berbasis pada peta kerentanan, maka setiap musim hujan kita akan terus menghadapi pola kejadian yang berulang,” pungkas Lana.***
Editor : Bar Bernad


























