SOREANG, Mevin.ID – Save the Children Indonesia bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Jawa Barat serta IDEP Selaras Alam menyelenggarakan Festival Adaptasi Perubahan Iklim bertajuk “Ngajaga Alam Ngabentang Kahirupan” di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang, Kamis (5/2).
Kegiatan ini menandai berakhirnya program pendampingan selama tiga tahun yang fokus pada penguatan kapasitas masyarakat, komunitas, dan lingkungan sekolah dalam menghadapi dampak krisis iklim.
Showcase Praktik Baik dan Inovasi Komunitas
Festival ini menjadi ruang diseminasi berbagai praktik baik yang telah diimplementasikan di tingkat akar rumput. Beberapa inovasi yang dipamerkan meliputi:
- Kebun Permakultur: Model pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap cuaca.
- Sistem Peringatan Dini: Pemanfaatan informasi cuaca dan iklim berbasis masyarakat untuk mitigasi bencana.
- Pengelolaan Sampah: Program berbasis komunitas untuk mengurangi beban lingkungan.
- Media Kampanye: Penayangan video, poster, tutorial anak, hingga Standar Operasional Prosedur (SOP) komunitas terkait perubahan iklim.
Selain pameran, festival juga menghadirkan policy dialogue guna mendorong integrasi isu adaptasi iklim ke dalam dokumen perencanaan pembangunan, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Melibatkan Anak-Anak sebagai Aktor Utama
Chief Operating Officer Save the Children Indonesia, Agni Pratama Kristian, menekankan bahwa anak-anak memiliki peran sentral dalam gerakan ini. Sebanyak 10 sekolah dampingan terlibat aktif, mulai dari tingkat SD hingga SMP di wilayah Rancaekek, Baleendah, hingga Malakasari.
“Anak-anak dan komunitas bukan hanya penerima manfaat, tetapi aktor utama perubahan. Ketika mereka dilibatkan sejak awal, maka ketangguhan akan tumbuh dari akar rumput,” ujar Agni dalam sambutannya.
Semangat ini tercermin dalam berbagai pertunjukan seni bertema lingkungan, seperti Recycle Fashion Show dari SIT Cordova dan Tari Jaipongan dari SMP Negeri 3 Rancaekek.
Dukungan Pemerintah dan Keberlanjutan Program
Pemerintah Kabupaten Bandung memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi lintas sektor ini. Bupati Bandung, yang diwakili Kepala Bapperinda H. Marlan, menilai program ini selaras dengan visi pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, berharap praktik-praktik baik di sekolah pendamping dapat segera direplikasi ke satuan pendidikan lainnya di Kabupaten Bandung.
“Program ini memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang adaptif. Praktik yang terbukti efektif perlu disebarluaskan sebagai model replikasi,” tutur Asep.
Program yang berjalan di 8 desa dan 2 kelurahan ini diharapkan menjadi modal penting bagi masyarakat untuk tetap mandiri dan tangguh dalam menghadapi ketidakpastian iklim di masa depan.***


























