ACEH TENGAH, Mevin.ID – Fenomena alam berupa lubang raksasa yang tampak seolah membelah bumi muncul di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.
Lubang yang terus melebar dan mendalam ini sempat memicu kekhawatiran warga akan adanya fenomena sinkhole (lubang runtuhan).
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Geologi Kementerian ESDM memberikan penjelasan ilmiah untuk meluruskan persepsi masyarakat.
Bukan Sinkhole, Tapi Longsoran Tahap Jangka Panjang
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan bahwa fenomena tersebut bukanlah sinkhole. Berbeda dengan sinkhole yang biasanya terjadi di wilayah batuan gamping, wilayah Aceh Tengah ini tersusun atas material tufa (endapan gunung api muda) dari aktivitas Gunung Geurendong yang sudah tidak aktif.
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” jelas Adrin melalui keterangan resminya, Sabtu (28/2/2026).
Berdasarkan analisis citra satelit sejak 2010, kawasan tersebut memang sudah memiliki lembah kecil yang terus tererosi. Proses ini dipercepat oleh dua faktor utama:
- Faktor Tektonik: Gempa bermagnitudo 6,2 pada tahun 2013 diduga telah memperlemah struktur lereng.
- Faktor Hidrologi: Curah hujan tinggi dan resapan air dari saluran irigasi perkebunan membuat batuan tufa menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikatnya.
Badan Geologi: Ini Adalah Piping Erosion
Senada dengan BRIN, Badan Geologi Kementerian ESDM menyimpulkan bahwa fenomena ini merupakan Piping Erosion atau erosi buluh (erosi bawah permukaan).
Melalui unggahan di media sosial resminya, Badan Geologi menjelaskan bahwa batuan di lokasi tersebut sangat mudah lepas jika terkena air. Kombinasi antara kemiringan lereng yang curam, erosi lateral, dan drainase yang buruk membuat lereng menjadi tidak stabil.
“Analisis awal menyimpulkan fenomena tersebut bukan sinkhole, melainkan Piping Erosion. Saat ini tim dari PVMBG dan Pusat Air Tanah sedang melakukan kajian pemutakhiran data di lapangan,” tulis akun @badan.geologi.
Mitigasi dan Kewaspadaan Masyarakat
Meskipun wilayah Pondok Balek secara umum masuk dalam zona kerentanan gerakan tanah rendah, risiko tetap mengintai pada area tebing dan lereng, terutama saat hujan lebat.
BRIN menekankan pentingnya langkah mitigasi segera, antara lain:
- Pengendalian air permukaan: Memastikan saluran irigasi tidak merembes ke dalam tanah yang rapuh.
- Zona Bahaya: Penetapan area yang dilarang untuk aktivitas warga.
- Sistem Peringatan Dini: Masyarakat diminta waspada jika muncul retakan tanah atau amblesan kecil di sekitar lokasi.
Fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pemahaman karakter geologi lokal dalam perencanaan tata ruang dan perkebunan di wilayah lereng gunung api.***
Editor : Bar Bernad


























