Bandung, Mevin.ID – Renovasi gerbang Gedung Sate yang kini mengusung desain menyerupai Candi Bentar memicu perdebatan publik. Proyek yang menelan anggaran Rp3,9 miliar itu dinilai tak sejalan dengan karakter arsitektur kolonial Gedung Sate yang menjadi ikon Jawa Barat.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, menjelaskan bahwa renovasi dilakukan karena pilar gerbang sudah lama tidak diperbaiki, sekaligus untuk memperkuat area luar kantor Gubernur. Ia menegaskan bahwa desain Candi Bentar dimaksudkan untuk mempertegas identitas budaya Sunda di kompleks pemerintahan.
“Pilar ini konsepnya Candi Bentar. Kita ingin memperkuat ikon Jawa Barat dan menjaga kawasan Gedung Sate,” ujar Adi, Jumat (21/11/2025).
Namun keputusan ini menuai sorotan, terutama karena renovasi muncul di tengah kebijakan efisiensi anggaran Pemprov Jabar untuk APBD 2025–2026. Saat OPD diminta mengurangi kegiatan seremonial, proyek fisik gerbang dan halaman justru masuk dalam APBD Perubahan 2025.
Adi menepis anggapan bahwa renovasi mengabaikan nilai sejarah. Ia menyebut anggaran Rp3,9 miliar tidak hanya untuk gerbang, tetapi juga perbaikan halaman dan area parkir, dengan target rampung pada Desember.
Di media sosial, kritik berdatangan. Banyak netizen menilai desain bergaya candi tidak sinkron dengan arsitektur Indo-Europeesche stijl khas Gedung Sate.
“Atuhlah, itu peninggalan Belanda, bukan Padjadjaran. Jadi asa gak nyambung,” tulis seorang warganet yang ramai dikutip.
Menanggapi kritik tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta publik mempercayakan desain pada para arsitek.
“Jangan ikutin netizen, tapi ikutin arsitek. Kalau ikutin netizen, gak akan selesai,” ujarnya seusai Paripurna di DPRD Jabar.
Dedi menekankan bahwa ruang bersejarah harus dikelola oleh ahli tata ruang, bukan berdasarkan selera media sosial.***
Penulis : Bar Bernad

























