BEKASI, Mevin.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, tak mampu membendung amarahnya saat meninjau langsung karut-marut pengelolaan sampah di perbatasan Bekasi dan daerah sekitarnya.
Dalam sidak yang diabadikan melalui kanal YouTube pribadinya, KDM menilai penanganan sampah di Jawa Barat saat ini sudah masuk tahap darurat akal sehat. Ia menyoroti fenomena sampah yang hanya berpindah-pindah daerah tanpa ada solusi permanen di hulu.
Lingkaran Setan: Sampah Cuma ‘Tour de West Java’
Dengan nada tinggi, KDM menyindir koordinasi antarwilayah yang dianggapnya sangat lemah. Ia merasa heran melihat sampah hanya dikirim dari satu kabupaten ke kabupaten lain seolah-olah masalah selesai dengan membuangnya ke tetangga.
“Nanti kayak orang gila lagi sampah itu. Dari Karawang dikirim ke Bekasi, dari Bekasi dikirim ke Bogor. Dari Bogor dikirim ke Cianjur. Dari Cianjur dikirim ke Purwakarta, nanti balik lagi ke Karawang,” ujar KDM dengan nada sarkas saat berada di lapangan.
KDM menegaskan bahwa sumber sampah tidak boleh lepas tangan. Ia menyoroti sampah dari Kota Bekasi dan aliran sungai yang justru menumpuk di wilayah Kabupaten Bekasi hingga mengancam infrastruktur vital seperti jalan tol.
“Kalau sampahnya di Kota Bekasi ya balik lagi dong ke Bantar Gebang. Jangan juga Bantar Gebang dikomersilkan, tapi sampah di kampungnya sendiri malah enggak boleh diterima!” tegasnya.
Tak hanya soal teknis, KDM juga melontarkan kritik pedas bagi para pejabat dan calon pemimpin yang enggan turun ke lapangan. Ia memperingatkan bahwa masalah lingkungan tidak akan selesai jika pemimpinnya hanya duduk manis di balik meja.
“Nanti kalau suatu saat ganti gubernurnya yang cuek lagi, yang ngurus skincare, enggak mau ke sawah, enggak mau ke sungai, ya berantakan lagi,” sindir KDM tajam.
Stop Proyek, Mulai Kerja Permanen
KDM menilai sistem pengelolaan sungai di Indonesia saat ini terlalu bergantung pada anggaran proyek. Sungai hanya dibersihkan saat ada uang proyek, lalu kembali kotor saat anggaran habis. Ia mendesak agar pola ini diubah menjadi sistem permanen dengan petugas dan alat yang siaga setiap hari.
Puncak kemarahannya terjadi saat mengetahui persoalan di TPA Sumur Batu dan aliran sungai ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
“Bapak ngurus ini berapa tahun? Lima tahun enggak kelar-kelar! Harusnya sampah itu bukan diaudiensikan, Pak. Diangkut!” ucapnya lantang kepada petugas di lokasi.
Di akhir sidaknya, KDM memerintahkan pengangkutan sampah segera dilakukan tanpa perlu memperdebatkan soal kewenangan wilayah.
Sikap tegas ini pun mendapat dukungan luas dari netizen dan warga lokal yang selama ini menderita akibat bau menyengat dan ancaman banjir.***
Penulis : Bar Bernad


























