Harumkan Nama Bangsa di Korea, Akademisi ITPLN Raih Best Presentation Award Lewat Riset Energi Terbarukan

- Redaksi

Kamis, 25 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Pusat Kajian Advanced Energy and Power System Solution (AEPS2), Institut Teknologi PLN (ITPLN) Dr Marwan Rosyadi saat memaparkan risetnya dalam ajang International Conference on Electrical Machines and Systems (ICEMS) 2025 yang digelar di Busan, Korea Selatan beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-ITPLN

Ketua Pusat Kajian Advanced Energy and Power System Solution (AEPS2), Institut Teknologi PLN (ITPLN) Dr Marwan Rosyadi saat memaparkan risetnya dalam ajang International Conference on Electrical Machines and Systems (ICEMS) 2025 yang digelar di Busan, Korea Selatan beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-ITPLN

Busan, Mevin.ID – Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia akademik Indonesia di kancah internasional. Dr. Marwan Rosyadi, Ketua Pusat Kajian Advanced Energy and Power System Solution (AEPS2) dari Institut Teknologi PLN (ITPLN), sukses menyabet penghargaan Best Presentation Award dalam ajang bergengsi International Conference on Electrical Machines and Systems (ICEMS) 2025 yang digelar di Busan, Korea Selatan.

Penghargaan ini diberikan atas riset mendalamnya yang menjawab tantangan global terkait transisi energi bersih, khususnya mengenai stabilitas sistem tenaga listrik masa depan.

Inovasi “Virtual Inertia”: Menjaga Stabilitas Listrik Masa Depan

Dalam forum yang dihadiri para pakar dunia tersebut, Dr. Marwan mempresentasikan makalah berjudul “Virtual Inertia Control for Grid-Connected Wind Farms: A Novel Approach to Frequency Stability Enhancement”.

Penelitian ini membedah persoalan krusial dalam penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Seiring meningkatnya penggunaan pembangkit berbasis inverter—seperti tenaga angin (PLTB) dan surya (PLTS)—sistem tenaga listrik cenderung kehilangan “inersia alami”. Akibatnya, sistem menjadi rapuh dan mudah mengalami gangguan frekuensi yang mendadak.

“Penelitian ini menawarkan pendekatan baru untuk meningkatkan stabilitas frekuensi tanpa harus mengubah perangkat keras utama. Hal ini membuatnya jauh lebih mudah diimplementasikan pada sistem tenaga listrik modern dengan penetrasi energi bersih yang tinggi,” jelas Dr. Marwan dalam keterangannya, Kamis (25/12/2025).

Validasi Global untuk Peneliti Indonesia

Keberhasilan ini bukan sekadar soal trofi, melainkan pengakuan bahwa kualitas riset akademisi Indonesia sejajar dengan peneliti global. Dr. Marwan menekankan bahwa setiap metodologi dan teori yang ia sampaikan diuji secara kritis oleh para ahli internasional di Busan.

“Penghargaan ini menjadi validasi bahwa riset kami memiliki relevansi global. Ini membuktikan peneliti Indonesia mampu bersaing selama riset yang dilakukan memiliki kebaruan dan kedalaman analisis yang menjawab tantangan dunia,” tambahnya.

Jembatan Menuju Transisi Energi Bersih

Capaian Dr. Marwan diharapkan menjadi dorongan bagi pengembangan sistem kelistrikan di Indonesia yang kini tengah gencar melakukan transisi energi.

Inovasi Virtual Inertia Control ini dipandang mampu menjadi jembatan antara kebutuhan menjaga stabilitas listrik nasional dengan agenda besar dekarbonisasi.

Melalui prestasi ini, ITPLN memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga pada riset aplikatif yang berdampak nyata bagi kemandirian energi nasional dan dunia.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cara Cek Apakah NIK KTP Anda Dipakai Pinjol, Begini Langkahnya
Pemerintah Fokus Mengembangkan Bandar Antariksa Biak
Sambut Tahun Kuda Api 2026: 3 Shio Ini Diprediksi Banjir Rezeki Jika Pakai Perhiasan Emas!
Roblox jadi Media Radikalisasi, BNPT: 112 Anak Terpapar!
Ancaman Nyata AI: 3 Juta Pekerjaan Diprediksi Lenyap dalam 10 Tahun ke Depan
Indonesia Jadi “Ibu Kota” Serangan Hacker Global: Sinyal Bahaya bagi Keamanan Siber Nasional
Larangan Medsos Anak di Australia Mulai Berlaku: Pemerintah Klaim Demi Mengembalikan Masa Kanak-kanak
Mulai 2026, Anak di Bawah 16 Tahun Tak Bisa Akses Medsos di Malaysia

Berita Terkait

Minggu, 11 Januari 2026 - 11:00 WIB

Cara Cek Apakah NIK KTP Anda Dipakai Pinjol, Begini Langkahnya

Minggu, 4 Januari 2026 - 09:30 WIB

Pemerintah Fokus Mengembangkan Bandar Antariksa Biak

Kamis, 1 Januari 2026 - 10:53 WIB

Sambut Tahun Kuda Api 2026: 3 Shio Ini Diprediksi Banjir Rezeki Jika Pakai Perhiasan Emas!

Rabu, 31 Desember 2025 - 14:30 WIB

Roblox jadi Media Radikalisasi, BNPT: 112 Anak Terpapar!

Kamis, 25 Desember 2025 - 20:04 WIB

Harumkan Nama Bangsa di Korea, Akademisi ITPLN Raih Best Presentation Award Lewat Riset Energi Terbarukan

Berita Terbaru