Heni Smith: Perempuan Sunda yang Jatuh Cinta pada Hutan dan Melahirkan Wisata Alam Berkelanjutan

- Redaksi

Rabu, 12 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung, Mevin.ID – Maribaya sore itu teduh. Langit menggantungkan awan tipis di atas perbukitan pinus, sementara aroma tanah lembap berpadu dengan musik akustik yang mengalun pelan dari panggung terbuka The Lodge Maribaya.

Di sinilah puluhan aktivis lingkungan, pegiat wisata alam, dan pengusaha hijau berkumpul dalam acara Climate Coustic Discuss, Selasa (11/11/2025).

Di antara deretan kursi kayu, seorang perempuan berwajah teduh tampak berbicara penuh semangat. Dialah Heni Nurhaeni Smith, atau akrab disapa Bunda Heni — sosok di balik lahirnya The Lodge Maribaya, ikon wisata alam Lembang yang kini dikenal hingga mancanegara.

Dari Inggris Kembali ke Tanah Kelahiran

Perjalanan Heni menuju dunia pariwisata hijau dimulai bukan dari ambisi bisnis, melainkan dari kerinduan.

Setelah bertahun-tahun menetap di Inggris bersama suami dan dua putrinya, perempuan Sunda ini memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun 2015.

Ia ingin mencari tempat tinggal yang jauh dari kebisingan kota — tempat anak-anaknya bisa berlari, mendengar gemericik air, dan belajar langsung dari alam.

Suatu hari, ketika menemani anaknya berkuda, seorang teman memperlihatkan padanya sebuah kawasan hutan lindung di Desa Cibodas, Maribaya.

Begitu melihatnya, Heni langsung jatuh cinta.

“Saya langsung terpikat. Rasanya seperti menemukan potongan kecil surga di tanah sendiri,” kenangnya sambil tersenyum.

Keesokan harinya, tanpa banyak berpikir, ia membeli lahan itu. Meski sempat terdengar rumor bahwa kawasan itu “angker”, Heni tak gentar. “Selama niatnya baik, hasilnya juga akan baik,” ujarnya mantap.

Dari Tempat Tinggal Pribadi Jadi Destinasi Viral

Awalnya, kawasan itu hanya ingin dijadikan tempat liburan keluarga. Heni ingin anak-anaknya mengenal alam, bukan sekadar mengenal gadget atau pusat perbelanjaan.

Ia menanam ratusan pohon, membangun tenda kecil, dan sesekali menginap di sana bersama keluarga.

Lima tahun berselang, ketika pepohonan mulai tumbuh tinggi dan tenda-tenda sederhana berdiri, kejutan datang. Foto-foto tempat itu tersebar luas di Instagram. The Lodge Maribaya mendadak viral sebagai spot wisata paling instagramable di Bandung Utara.

“Saya baru tahu dari keponakan-keponakan, katanya tempat ini ramai sekali di media sosial,” kata Heni, terkekeh.

Melihat antusiasme publik, ia pun memutuskan membuka kawasan tersebut untuk umum. Namun, jalan menuju sukses tak selalu mulus.

Protes dari sebagian warga sempat membuatnya goyah. Tapi dukungan suami membuatnya bertahan — dan justru menjadikan warga lokal sebagai bagian dari tim pengelola.

Membangun Ekosistem Wisata Berkelanjutan

Kini, The Lodge Maribaya bukan sekadar tempat berfoto. Di tangan Heni, kawasan itu tumbuh menjadi ekosistem wisata yang memadukan edukasi, konservasi, dan ekonomi lokal.

Lima unit usaha lahir dari visinya:

  • The Lodge Woodland, arena wisata dan wahana foto keluarga.
  • The Lodge Camp, pengalaman berkemah dengan tenda dan vila keluarga.
  • The Lodge Café, yang menyajikan menu farm to table dan kuliner Sunda.
  • The Lodge Gallery, ruang pamer produk UMKM lokal.
  • The Lodge Experience, arena outbound dan team building berbasis alam.

Tak berhenti di situ, Heni juga mendirikan The Lodge Foundation — wadah pelatihan bahasa, seni tradisi Sunda, serta konservasi alam yang berkolaborasi dengan aktivis lingkungan.

“Saya ingin wisata ini tidak hanya memberi hiburan, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa alam harus dijaga. Karena tanpa alam, tak ada wisata,” ujar Heni menutup perbincangan.

Perempuan, Alam, dan Perubahan

Dalam forum Climate Coustic Discuss sore itu, Heni duduk sejajar dengan para tokoh lingkungan seperti Rosita, “wanita 44.000 pohon”, dan Ery Erlangga dari Kebun Raya Bogor. Mereka berbicara tentang hal yang sama: masa depan bumi.

Namun dari Heni, ada pesan yang terasa personal — tentang bagaimana cinta pada alam bisa menumbuhkan harapan baru.

Di tangannya, hutan Maribaya tak hanya tumbuh hijau, tapi juga melahirkan cerita: bahwa dari tangan seorang perempuan, wisata bisa menjadi sarana merawat bumi, bukan mengurasnya.

“Saya tidak pernah merencanakan semua ini,” katanya pelan.

“Saya hanya ingin hidup berdamai dengan alam — dan ternyata, alam membalas dengan cara yang indah.”***

Facebook Comments Box

Penulis : Ali Wardhana Isha

Editor : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias
Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia
Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara
Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara
Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial
Amarah, Api yang Menghanguskan dan Pemicu Perubahan
Bencana Antropogenik Sumatera 2025: Luka yang Dibuat, Bukan Ditakdirkan
Al-Kindi: Sang Filsuf Arab Pertama Penjaga Gerbang Akal dan Wahyu

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:35 WIB

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:58 WIB

Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:09 WIB

Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara

Senin, 15 Desember 2025 - 21:06 WIB

Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara

Senin, 15 Desember 2025 - 10:24 WIB

Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial

Berita Terbaru