Hutan & Air Penentu Kehidupan Semua Makhluk Hidup

- Redaksi

Jumat, 17 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hutan & Air Penentu Kehidupan Semua Makhluk Hidup Foto : Freepik.com

Hutan & Air Penentu Kehidupan Semua Makhluk Hidup Foto : Freepik.com

Kolom Agus Pakpahan

DALAM 1 gram tanah bisa terdapat miliaran bakteri. Apalagi kalau pada tanah hutan karena tingginya kadar C organik daripada tanah pertanian/perkebunan. C organik adalah tempat hidupnya bakteri.

Dalam tubuh kita juga jumlah bakterinya jauh melebihi jumlah sel tubuh kita, jumlahnya triliunan. Tidak keliru mengatakan bahwa kehidupan kita diatur oleh bakteri.

Siklus hidrologi (perputaran air: air-uap-es-air lagi dst) melibatkan hutan.

Jadi, dipandang dari sudut ini: hutan = air = penentu kehidupan semua makhluk hidup (bernyawa, termasuk tanaman dan microorganisms) dan makhluk tidak bernyawa (abiotik).

Teori lama siklus hidroorologi hanya menerangkan air menjadi uap air, ditiup angin ke arah gunung dan gunung pada umumnya hutan. Uap air ini terus naik ke atas (atmosfir) dan berubah menjadi es. Es ini kemudian mencair lagi menjadi air hujan.

Belum lama ini teori siklus hidroorologis berkembang dengan menerangkan peran bakteri dalam membekukan uap air menjadi es dan kemudian menjadi air lagi. Apabila mikroorganisme atau yang biasa disebut bioaerosol tidak memadai maka uap air menjadi es baru terjadi pada temperatur -38°C. Akan tetapi, apabila bioaerosol berupa bakteri ini hadir secara memadai maka uap air akan menjadi es pada temperatur -10°C.

Artinya pembentukan hujan terjadi pada temperatur yang lebih hangat.

Hutan sebagai suatu ekositem hasil suksesi ribuan atau jutaan tahun berfungsi sebagai supplier bakteri. Apabila hutan ini dikonversi menjadi lahan selain hutan, akan mengubah sifat ekosistem ini. Nilai eksistensi hutan hilang, demikian juga kemungkinan hilangnya nilai instrumentalnya.

Kita baru bicara satu aspek bakteri saja sudah sedemikian kompleks ekosistem hutan ini. Kita belum bicara aspek keanekaragaman hayati, island life, stock genetics, dll., apalagi bagi kita sebagai bangsa tropika.

Demikian sedikit pandangan tentang hutan sebagai sedikit uraian life support systems. Semoga bermanfaat.***

Agus Pakpahan, alumnus Fakultas Kehutanan IPB (1978); pakar ekonomi kelembagaan dan pertanian, Rektor Ikopin Univerity

Facebook Comments Box

Penulis : Agus Pakpahan

Editor : Ude D Gunadi

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Skrining Dini Kesehatan Mental
Diplomasi Dengung, Belajar Menjadi Hamba dari Seekor Lalat
Membedah “Dosa Tata Ruang”: Mengapa Bekasi dan Karawang Tenggelam di Tengah Kejayaan Industri?
Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia
Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi
Persoalan Sampah di Kota Bandung, Ujian Kepemimpinan di Kota Kembang
Nasib BIJB Kertajati Majalengka di Ujung Tanduk
Mengintegrasikan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Sekolah dan Desa

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:29 WIB

Skrining Dini Kesehatan Mental

Selasa, 20 Januari 2026 - 08:52 WIB

Diplomasi Dengung, Belajar Menjadi Hamba dari Seekor Lalat

Selasa, 20 Januari 2026 - 07:57 WIB

Membedah “Dosa Tata Ruang”: Mengapa Bekasi dan Karawang Tenggelam di Tengah Kejayaan Industri?

Minggu, 18 Januari 2026 - 10:39 WIB

Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:01 WIB

Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi

Berita Terbaru