Gaza City, Palestina, Mevin.ID – Di kamp pengungsi Khan Younis, Gaza Selatan, asap tebal mengepul dari tungku tanah sederhana. Kawthar Hussein dengan sabar menyusun adonan kaak, kue tradisional Idul Fitri, di atas nampan besi. Suara ledakan sesekali mengguncang, tapi tangannya tak berhenti bekerja.
“Ini untuk anak-anak. Biar mereka tahu, Idul Fitri tetap ada meski perang tak berakhir,” ujarnya, matanya berkaca-kaca.
Tahun ini, Idul Fitri tiba dalam situasi paling suram. Blokade total Israel sejak 2 Maret 2025 mengunci Gaza dari pasokan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Pasar-pasar kosong, harga melambung, dan kelaparan mulai merenggut nyawa. Menurut otoritas Gaza, wilayah ini telah memasuki fase pertama krisis kelaparan.
Kue dari Kardus dan Air Mata
Tanpa gas, para ibu seperti Kawthar terpaksa memanfaatkan kardus dan kayu bakar untuk memasak. “Dulu saya bisa buat 9 kg kue. Sekarang… 1 kg pun syukur,” katanya sambil mengipasi bara api. Asap hitam mengotori wajahnya, tapi tekadnya tak pudar.
Beberapa tenda jauh, Umm Mohammed membagi potongan *kaak* seukuran koin untuk 7 cucunya. “Masing-masing dapat satu. Itu saja sudah bikin mereka tersenyum,” ujarnya. Sebelumnya, ia kehilangan tiga anggota keluarga dalam serangan udara 18 Maret yang menewaskan 896 orang dalam sehari.
Idul Fitri Tanpa Pesta
Idul Fitri yang biasanya diramaikan baju baru dan hidangan mewah, kini hanya tinggal kenangan. Anak-anak bermain di antara puing-puing bangunan, memakai pakaian bekas sumbangan. “Kami tak punya mainan, jadi bikin permainan dari batu dan kaleng,” kata Ahmed (10), yang kakinya masih terluka akibat serangan Maret lalu.
Di tengah kepungan, tradisi Islam tetap dipertahankan. Beberapa remaja menyusun lampu kertas bertuliskan “Eid Mubarak” dari potongan plastik. “Ini bukti kami masih ada,” cetus salah seorang pemuda.
Dunia Menyaksikan
Sementara itu, tekanan internasional terhadap Israel kian menguat. ICC telah mengeluarkan surat penangkapan untuk PM Benjamin Netanyahu terkait kejahatan perang, sementara ICJ masih menginvestigasi tuduhan genosida. Namun, di Gaza, rakyat Palestina hanya punya satu harapan: bertahan hidup sampai esok hari.
“Kami bangsa yang mencintai kehidupan,” kata Kawthar, menatap anak-anaknya yang asyik mengunyah *kaak*. “Selama masih bisa bernapas, kami akan terus merayakan Idul Fitri, sekecil apa pun kebahagiaannya.”
Data Korban (per 30 Maret 2025):
– Tewas: >50.200 jiwa
– Luka-luka: >114.000
– Serangan 18 Maret: 896 tewas, 2.000 luka ***


























