Jakarta, Mevin.ID – Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Sumatra dalam beberapa hari terakhir kembali menambah daftar panjang bencana banjir di Indonesia.
Musim hujan yang datang lebih cepat, dipadu cuaca ekstrem dan minimnya daerah resapan, membuat banyak daerah kewalahan menghadapi debit air yang terus meningkat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.481 kejadian banjir terjadi sejak awal 2025 hingga Sabtu (29/11). Angka ini telah melampaui total kejadian banjir sepanjang tahun 2024—menandakan intensitas bencana hidrometeorologi basah tahun ini jauh lebih tinggi.
Musim Hujan Memuncak, Sumatra Dikepung Air
Wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh kini berada dalam kondisi siaga penuh. Hujan bertubi-tubi yang diprediksi berlangsung hingga Senin (1/12) menyebabkan banjir meluas hingga memakan korban jiwa.
Tak hanya Sumatra, hujan dengan intensitas meningkat juga dilaporkan di beberapa daerah lain seperti Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, hingga Jakarta.
“Puncak musim hujan tahun ini banyak terjadi pada November–Desember, terutama di Indonesia bagian barat,” demikian laporan cuaca yang dirilis sebelumnya.
Jawa Barat Paling Sering Dilanda Banjir
Meski Sumatra sedang menjadi pusat perhatian, data BNPB menunjukkan bahwa tiga provinsi di Pulau Jawa menjadi daerah dengan frekuensi banjir tertinggi sepanjang 2025:
- Jawa Barat: 168 kali
- Jawa Timur: 154 kali
- Jawa Tengah: 132 kali
Banjir besar yang melanda Depok pada Maret–April lalu menjadi salah satu kejadian yang turut menyumbang angka tinggi di Jawa Barat.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa bencana banjir yang melanda Sumatra saat ini menimbulkan dampak yang sangat besar.
“Sebanyak 174 jiwa meninggal dunia, 79 hilang, dan 12 mengalami luka-luka,” ujarnya.
Kerusakan infrastruktur, rumah warga, hingga fasilitas publik di berbagai daerah masih dalam proses pendataan.
Minim Resapan & Cuaca Ekstrem: Kombinasi Mematikan
Banjir yang berulang kali terjadi disebut para ahli sebagai kombinasi dari:
- curah hujan tinggi yang tak terduga,
- aliran sungai yang tak mampu menampung debit air,
- serta minimnya area resapan yang semakin hilang oleh pembangunan.
Bencana yang terus terjadi sepanjang 2025 menjadi alarm keras bagi tata kelola lingkungan dan mitigasi bencana di Indonesia.***


























