JAKARTA, Mevin.ID – Meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi di tanah air, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI secara resmi meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan Virus Nipah.
Langkah antisipasi ini diambil menyusul laporan adanya dua kasus baru yang menginfeksi tenaga kesehatan di Distrik North 24 Parganas, India, per 26 Januari 2026 lalu.
Ancaman dari Inang Alami
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa Virus Nipah adalah penyakit zoonotik (menular dari hewan ke manusia) yang inang alaminya adalah kelelawar buah (Pteropus sp.).
“Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi di Indonesia. Namun, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat posisi geografis kita dan tingginya mobilitas antarnegara,” ujar Murti dalam keterangan resminya, Minggu (1/2/2026).
Penelitian di Indonesia sendiri telah menemukan bukti serologis adanya virus ini pada kelelawar buah lokal, yang berarti sumber penularan sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
Gejala: Dari Flu hingga Peradangan Otak
Masyarakat perlu mengenali bahwa manifestasi klinis Virus Nipah sangat bervariasi. Penyakit ini bisa menyerang sistem pernapasan maupun saraf dengan gejala antara lain:
- Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan hingga berat.
- Ensefalitis atau peradangan otak yang fatal dan berisiko kematian.
- Penularan antarmanusia melalui kontak erat dengan penderita.
Tips Pencegahan: Jangan Asal Minum Nira
Salah satu poin krusial yang ditekanan Kemenkes adalah kebiasaan mengonsumsi hasil alam. Virus Nipah dapat menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.
Berikut adalah panduan pencegahan dari Kemenkes:
- Masak Nira/Aren: Hindari meminum air nira langsung dari pohonnya. Pastikan dimasak hingga mendidih karena kelelawar sering menyambangi sadapan nira pada malam hari.
- Sortir Buah: Cuci bersih dan kupas buah secara menyeluruh. Jangan mengonsumsi buah yang memiliki bekas gigitan hewan.
- Pantau Gejala: Segera verifikasi ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala serupa pneumonia atau meningitis tanpa sebab yang jelas.
“Dinas Kesehatan di seluruh tingkatan telah kami instruksikan untuk memantau tren kasus suspek seperti ILI (Influenza Like Illness) dan pneumonia guna deteksi dini,” tambah Murti.
Hingga saat ini, otoritas kesehatan di India masih mengarantina lebih dari 120 kontak erat untuk memutus rantai penularan.
Bagi masyarakat Indonesia, kuncinya tetap satu: menjaga kebersihan pangan dan tetap waspada tanpa perlu panik berlebihan.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Antara

























