Bandung, Mevin.ID — Pekan ke-14 Super League mengubah peta persaingan gelar. Borneo FC yang sebelumnya tampak tak tersentuh akhirnya tumbang 0–1 dari Bali United, sementara Persija Jakarta dan Persib Bandung sama-sama mengamankan tiga poin.
Hasil ini bukan sekadar pergeseran angka di klasemen. Bagi pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, ada sinyal lain yang lebih mengkhawatirkan—kebangkitan Persija.
Enam kemenangan beruntun Macan Kemayoran membuat peluang mereka menembus perebutan gelar kembali hidup. Melansir perhitungan Footy Rankings, probabilitas Persija menjadi juara naik menjadi 10 persen, melompat dari sebelumnya 6 persen.
Mereka kini berada di posisi kedua klasemen dengan 29 poin, tepat di bawah Borneo FC (33 poin) dan satu tingkat di atas Persib Bandung (25 poin), yang masih menyimpan dua laga tunda.
Kekalahan Borneo FC membuat peluang juara mereka tergerus drastis—turun dari 80 persen lebih menjadi 62 persen. Sebaliknya, peluang Persib justru melonjak ke 27 persen, mengingat Maung Bandung masih punya tabungan pertandingan untuk mempersempit jarak.
Sejak awal, Bojan Hodak sudah membaca situasi ini. Seusai kemenangan Persib atas Madura United, pelatih asal Kroasia itu secara terbuka menyebut Persija sebagai ancaman nyata.
“Saya lebih khawatir tentang Persija. Mereka punya hal-hal khusus yang membuat mereka berbahaya,” ujar Bojan.
Di sisi lain, Persija tengah berada pada titik kepercayaan diri tertinggi. Kehadiran Allano Lima dan lini serang yang semakin efektif membuat Macan Kemayoran tampak seperti tim yang menemukan kembali karakternya.
Jika tren ini berlanjut, persaingan tiga poros—Borneo, Persib, dan Persija—berpotensi menjadi yang paling ketat dalam beberapa musim terakhir.
Apalagi, jeda SEA Games 2025 memberi ruang bagi setiap tim untuk merapikan strategi, termasuk Persib yang bisa memanfaatkan dua laga tunda sebagai tiket emas menuju puncak klasemen.
Perburuan juara Super League musim ini baru separuh jalan, tetapi tensinya sudah terasa seperti tiga pekan terakhir kompetisi.
Dan sejauh ini, insting Hodak yang paling tajam menangkap arah bahaya—Persija bukan lagi sekadar pesaing, melainkan ancaman yang merapat cepat.***


























