Jakarta, Mevin.ID — Di tengah duka yang masih membalut Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat banjir bandang dan longsor, suara kritis datang dari penyanyi dangdut Inul Daratista.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Inul menyoroti fenomena figur publik yang sibuk berpose kamera ketimbang memastikan bantuan benar-benar tiba di tangan warga terdampak.
Unggahan tersebut langsung menyedot perhatian publik. Inul menuliskan kekesalannya atas maraknya aksi foto-foto bersama korban bencana, yang menurutnya tidak hanya minim empati, tetapi juga terasa seperti panggung pencitraan.
View this post on Instagram
“Wis mulai byk yg turun lapangan, tapi pencitraan full. Futu-futu manja sama yang kelaparan sambil nangis-nangis… cuma bisa elus dada,” tulisnya.
Inul mengaku kehabisan kata-kata melihat bagaimana kondisi krisis justru dijadikan latar konten oleh sebagian elite.
“Sampe nggak bisa berkata-kata aku tuh… kok bisa masih sempet pencitraan, gusti,” ujarnya.
Adu Prioritas di Tengah Situasi Darurat
Kemarahan Inul tidak datang dari ruang kosong. Situasi di lapangan masih jauh dari pulih: ribuan rumah tersapu, jalan nasional sempat lumpuh total, dan beberapa kampung di Aceh Utara hingga Bireuen dilaporkan hilang diterjang air bah.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf bahkan terekam menahan tangis ketika melaporkan sejumlah wilayah yang “hilang” akibat bencana.
Di saat publik menuntut evakuasi cepat dan distribusi logistik yang merata, aksi swafoto sejumlah figur publik di zona bencana justru memicu gelombang kritik. Diskusi yang sama ramai muncul di media sosial, mempertegas tuntutan agar pejabat dan pesohor fokus pada kerja nyata — bukan dokumentasi.
Bencana Besar, Harapan Besar
Banjir dan longsor yang melanda Sumatera sejak akhir November hingga awal Desember 2025 menjadi salah satu bencana terbesar tahun ini. Ratusan jiwa meninggal, ratusan ribu warga terpaksa mengungsi, dan wilayah terdampak masih berjuang dengan keterbatasan logistik.
Dalam situasi setegang ini, publik berharap solidaritas hadir dalam bentuk tindakan nyata, bukan gimmick layar kamera.
Inul menegaskan bahwa empati bukan soal hadir di lokasi untuk difoto, tetapi hadir untuk membantu warga kembali berdiri di tengah kehilangan yang begitu besar.***

























