Iran, Mevin.ID – Gelombang demonstrasi besar-besaran yang melanda Iran memasuki fase paling mematikan dalam sejarah modern negara tersebut.
Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan bahwa jumlah korban tewas kini telah melampaui angka 2.000 jiwa di tengah upaya pemerintah menekan aksi protes dengan pengerahan aparat keamanan besar-besaran.
Berdasarkan data terbaru dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) hingga Selasa (13/1/2026), tercatat sedikitnya 2.003 orang tewas akibat protes nasional ini.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Revolusi Islam 1979, melampaui skala korban pada protes Mahsa Amini tahun 2022 lalu.
Ekonomi Jadi Pemantik Utama
Aksi protes yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan ini awalnya dipicu oleh kemarahan publik atas kondisi ekonomi Iran yang kian memburuk.
Namun, tuntutan massa dengan cepat berubah menjadi penolakan terhadap sistem teokrasi dan kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di berbagai sudut kota Teheran, coretan grafiti dan seruan massa secara terang-terangan menargetkan Khamenei—sebuah tindakan berisiko tinggi yang dapat dijatuhi hukuman mati di negara tersebut.
Respons Keras Khamenei dan Tudingan Terhadap Trump
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam pidato resminya memuji massa pro-pemerintah dan menuding pihak asing berada di balik kerusuhan ini.
“Ini adalah peringatan kepada politisi Amerika untuk menghentikan tipu daya mereka. Bangsa Iran kuat dan menyadari siapa musuh sebenarnya,” tegas Khamenei (14/1).
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social memberikan dukungan terbuka bagi para pengunjuk rasa.
“Para patriot Iran, teruslah berprotes—kuasai lembaga-lembaga kalian! Bantuan sedang dalam perjalanan,” tulis Trump.
Meskipun memberikan dukungan moral, Trump belakangan menyatakan nada lebih hati-hati dengan menunggu laporan akurat sebelum mengambil tindakan lebih jauh terkait penggunaan kekuatan militer atau intervensi langsung.
Rincian Korban dan Kondisi Terkini
Data dari kelompok aktivis merinci sebaran korban sebagai berikut:
- Pengunjuk rasa: 1.850 orang tewas.
- Afiliasi Pemerintah/Aparat: 135 orang tewas.
- Anak-anak: 9 jiwa.
- Warga sipil non-protes: 9 jiwa.
- Total Penahanan: Lebih dari 16.700 orang.
Saat ini, akses internet di sebagian besar wilayah Iran masih diputus untuk membatasi komunikasi ke dunia luar.
Namun, sejumlah saksi mata yang berhasil dihubungi melaporkan pusat kota Teheran kini menyerupai zona perang dengan bangunan pemerintah yang hangus, mesin ATM dirusak, dan aparat bersenjata lengkap yang berjaga di setiap sudut jalan.
Krisis ini diperkirakan akan terus memanas seiring dengan peringatan dari Jaksa Agung Iran bahwa siapapun yang terlibat dalam protes akan dianggap sebagai “musuh Tuhan” (Moharebeh), sebuah dakwaan dengan ancaman hukuman maksimal eksekusi mati.***
Editor : Bar Bernad


























