JAKARTA, Mevin.ID – Banjir yang merendam Jakarta belakangan ini sering kali memicu pertanyaan: Kenapa Jakarta tetap banjir padahal curah hujan tidak terlalu ekstrem?
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa air yang meluap di ibu kota adalah hasil dari interaksi kompleks yang lebih dari sekadar urusan cuaca.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, menegaskan bahwa masalah banjir Jakarta bersifat multifaktor dan saling berkaitan.
Menurut riset terbaru per Februari 2026, terdapat tiga “aktor utama” di balik genangan yang tak kunjung usai.
Tiga Pemicu Utama Banjir Jakarta
- Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence): Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju yang mengkhawatirkan, yakni 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Kondisi ini membuat daratan semakin rendah dibandingkan permukaan air laut.
- Kapasitas Drainase yang Kalah Cepat: Curah hujan yang sebenarnya tidak terlalu ekstrem sering kali sudah melampaui kapasitas sistem drainase kota yang ada saat ini.
- Pendangkalan Sungai & Sampah: Infrastruktur sungai tidak berfungsi maksimal karena tumpukan sedimen (pendangkalan) dan sumbatan sampah, terutama kiriman dari wilayah hulu.
“Pendangkalan tersebut menurunkan daya tampung saluran secara signifikan. Akibatnya, debit air yang relatif kecil pun dapat memicu luapan ke wilayah sekitar,” jelas Budi Heru (9/2/2026).
AI dan Teknologi SAR: Senjata Baru Lawan Banjir
Untuk mengatasi masalah menahun ini, BRIN menawarkan strategi berbasis teknologi tinggi. Salah satu yang paling mutakhir adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi kenaikan air.
- Teknologi SAR (Synthetic Aperture Radar): Digunakan untuk memetakan penurunan tanah dan potensi banjir secara presisi dalam format 2D dan 3D.
- Prediksi Berbasis AI: BRIN mengembangkan algoritma untuk memprediksi level air di Bendungan Katulampa menggunakan data satelit. Tujuannya? Memberikan waktu peringatan dini (early warning) yang lebih panjang dan akurat bagi warga Jakarta.
- Hybrid ARIMA-LSTM: Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menyebut pendekatan Machine Learning ini memberikan akurasi prediksi anomali hujan yang jauh lebih baik dibanding teknik konvensional.
Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir?
Bagi warga yang sudah lelah dengan banjir, ada sedikit kabar baik. Eddy Hermawan memprediksi musim hujan tahun 2026 ini akan segera berakhir.
“Diprediksi berakhir di akhir Februari atau awal Maret 2026. Hal ini terjadi karena pengontrol Monsun Asia dan IOD (Indian Ocean Dipole) sudah mulai bergerak ke fase normal,” ungkap Eddy.
Meskipun teknologi sudah tersedia, BRIN menekankan bahwa solusi banjir Jakarta tetap membutuhkan komitmen politik lintas wilayah yang kuat serta partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola sampah.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: CNBC Indonesia


























