BOGOR, Mevin.ID – Bagi masyarakat perkotaan, melihat sungai meluap dengan warna cokelat pekat adalah sinyal untuk menjauh sejauh mungkin.
Namun, bagi anak-anak di Jasinga, Kabupaten Bogor, luapan air sungai bukan ancaman, melainkan “wahana bermain” yang disediakan alam secara cuma-cuma.
Sebuah rekaman amatir yang diunggah oleh akun Instagram yenihadimulandira (diunggah pada akhir Januari 2026) mendadak viral. Dalam video tersebut, tampak sejumlah anak melompat dengan tenang ke tengah pusaran arus yang menderu.
Tanpa pelampung, tanpa helm, hanya bermodalkan nyali dan celana pendek, mereka membiarkan tubuh mungil mereka diseret arus deras bak atlet river tubing profesional.
View this post on Instagram
Tradisi “Alun-alunan” yang Tak Luntur
Fenomena ini membuktikan bahwa tepi ka ayeuna, barudak Jasinga masih memiliki keberanian tinggi untuk melakukan aksi alun-alunan atau papalidan (hanyut mengikuti arus) saat sungai sedang meluap (caah).
Seolah tidak punya rasa takut, aksi ini merupakan warisan turun-temurun. Namun, ada satu hal yang membedakan antara masa kini dan masa lalu: warna airnya.
”Baheula mah mun cai caah warnana masih herang (bening), teu siga kopi susu kieu,” kenang beberapa warga lokal.
Dulu, banjir kiriman tetap membawa air yang relatif bersih. Kini, meski airnya telah berubah warna menjadi cokelat pekat layaknya kopi susu akibat sedimentasi dan perubahan tata lahan di hulu, nyali anak-anak Jasinga tetap tak luntur.
Kerennya, mereka tetap mampu menaklukkan sungai meski kondisinya tak lagi sebersahabat dulu.
Lebih dari Sekadar Adrenalin
Aksi ini memicu perdebatan di kolom komentar. Banyak yang merasa ngeri, namun tak sedikit yang kagum dengan ketenangan mereka. Anak-anak ini tidak terlihat panik; mereka tahu kapan harus melemaskan badan dan kapan harus menepi.
Ini bukan sekadar kenekatan tanpa arah. Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sebagai Pengetahuan Ekologis Lokal (LEK). Bagi anak-anak desa yang tumbuh di bantaran sungai:
- Membaca Alam: Mereka memiliki kemampuan instingtif membaca pola arus, mana titik yang dalam, dan di mana posisi bebatuan tersembunyi.
- Adaptasi Lingkungan: Ketakutan sering kali lahir dari ketidaktahuan. Sebaliknya, anak-anak ini merespons lingkungan mereka dengan adaptasi yang mendalam.
- Interaksi Organik: Di saat anak kota berinteraksi dengan simulasi (video game), mereka berinteraksi langsung dengan hukum fisika alam yang nyata.
Sudut Pandang: Kearifan Lokal atau Bahaya Laten?
Menjawab pertanyaan Anda, aksi ini memang bisa dipandang sebagai bentuk kearifan lokal. Ada semacam “kesepakatan tak tertulis” antara manusia dan alam di sana. Bagi mereka, sungai adalah kawan lama, bahkan saat sedang “marah” sekalipun.
Namun, kita tetap harus menempatkan perspektif ini secara objektif:
“Kearifan lokal memberikan mereka keunggulan dalam penguasaan medan, namun batasan antara keberanian dan risiko tetaplah tipis. Adaptasi ini menunjukkan betapa tangguhnya anak-anak pedesaan, meski standarisasi keamanan tetap menjadi catatan bagi kita yang melihatnya dari kacamata masyarakat urban.”
Pada akhirnya, video dari Jasinga ini mengingatkan kita bahwa definisi “ruang bermain” bagi setiap anak berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memaknai alam di sekelilingnya.***
Penulis : Bar Bernad


























