“Kapitalisme membuat kita sibuk bekerja, agar kita lupa menanyakan untuk apa kita hidup.”
——- André Gorz –
KUTIPAN André Gorz ini adalah sebuah lonceng peringatan yang menggema di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Ia menyentuh titik paling vital dalam keberadaan manusia: makna.
Kapitalisme, sebagai sistem ekonomi dan budaya yang dominan, bekerja dengan kecerdasan yang licik. Keberhasilannya yang paling efektif bukanlah pada janji kekayaan yang disebar luaskan, melainkan pada kemampuannya membuat kita terlalu sibuk untuk bertanya.
Kita diseret dalam sebuah ritme kerja yang brutal, di mana waktu ditukar dengan upah, dan pada gilirannya, kesadaran ditukar dengan rutinitas yang menumpulkan. Sistem ini membuat tubuh kita lelah, pikiran kita terbebani, dan jiwa kita teralienasi dari tujuan aslinya.
Dalam kondisi kelelahan permanen ini, pertanyaan paling fundamental—”Mengapa aku melakukan semua ini?” atau “Untuk apa aku hidup?”—berubah menjadi kemewahan intelektual yang terasa sia-sia atau tidak sempat dipikirkan.
Kapitalisme tidak perlu secara eksplisit menghilangkan kebebasan kita. Ia hanya perlu menjamin bahwa kita tidak pernah punya waktu, energi, atau kejernihan mental untuk menggunakan kebebasan tersebut.
Kita berlari keras dalam perlombaan tanpa garis akhir. Kita bekerja lebih lama, mengejar komoditas dan standar hidup yang terus-menerus dinaikkan oleh mekanisme pasar.
Semakin keras kita berlari, semakin kita mendekati apa yang disebut “kesuksesan” oleh sistem, namun pada saat yang sama, semakin jauh kita terpisah dari diri kita yang otentik.
Yang kita sebut ‘kesuksesan’ hari ini sering kali hanyalah sebuah label—sebuah kepatuhan yang setia terhadap definisi yang dirancang dan dilembagakan oleh mesin produksi dan konsumsi.
Kita menilai diri dari jam kerja, ukuran aset, atau merek barang yang kita miliki, bukan dari kualitas hubungan, kedalaman refleksi, atau kontribusi nyata pada kemanusiaan.
Refleksi atas jerat ini menghasilkan pertanyaan yang sederhana namun menohok: Jika seluruh hidup kita dihabiskan semata-mata untuk mempertahankan eksistensi fisik—untuk membayar tagihan dan mengisi kulkas—apakah itu benar-benar hidup dalam makna sejati?
Dan jika kita tidak pernah sempat, atau berani, mempertanyakan arah perjalanan yang kita ambil, bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita tidak sedang berlari dengan kecepatan penuh menuju kekosongan, menuju sebuah puncak kesuksesan yang pada akhirnya terasa hampa?
Inilah tantangan terbesar di era kapitalis: menemukan ruang hening di tengah kebisingan pekerjaan. Tugas kita adalah menciptakan jeda reflektif, di mana kita dapat mengklaim kembali waktu dan kesadaran, serta menggunakan kebebasan yang telah lama terabaikan.
Hanya dengan berani menanyakan untuk apa kita hidup, kita dapat menghentikan diri dari hanya menghabiskan hidup demi memenuhi tuntutan sistem.***
Penulis : Bar Bernad


























