CIREBON, Mevin.ID – Sebuah pemandangan memilukan tersaji di Desa Guwa Kidul, Cirebon. Gedung Taman Kanak-Kanak (TK) yang selama 19 tahun menjadi tempat lahirnya mimpi-mimpi kecil anak bangsa, kini rata dengan tanah.
Sekolah yang telah berdiri tegak sejak tahun 2007 tersebut dibongkar paksa dengan alasan lahan akan digunakan untuk pembangunan “Koperasi Desa Merah Putih”.
Insiden ini memicu gelombang protes dan tangis keputusasaan dari para guru serta orang tua siswa yang menyaksikan tempat belajar anak-anak mereka dipreteli satu per satu.
19 Tahun Pengabdian yang Berakhir Pilu
Sekolah ini bukan sekadar bangunan kayu dan bata. Sejak tahun 2007, TK di Guwa Kidul telah menjadi fondasi masa depan bagi generasi muda di desa tersebut.
Namun, pengabdian selama hampir dua dekade itu seolah tidak berarti ketika alat-alat mulai menurunkan genteng dan merobohkan dinding bangunan.
“Sangat menyesakkan dada melihat gedung sekolah kami dibongkar seperti ini. Sekolah ini sudah mendidik anak-anak sejak 2007, tapi sekarang diusir tanpa alasan yang jelas,” ujar salah satu guru dalam unggahan yang viral di media sosial.
Masa Depan vs Ekonomi: Haruskah Sekolah Dikorbankan?
Muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat: Apakah kemajuan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih harus selalu mengorbankan tempat belajar anak-anak?
Meski pihak sekolah dan guru menyatakan keinginan untuk tetap kooperatif dengan program pemerintah, mereka menyayangkan mengapa tidak ada solusi relokasi atau perlindungan terhadap institusi pendidikan yang sudah ada.
“Anak-anak didik kami butuh tempat untuk belajar! Jangan biarkan pendidikan anak-anak Cirebon terhenti di sini hanya demi kepentingan pembangunan lain,” bunyi jeritan hati para guru di balik reruntuhan gedung.
Mengetuk Hati Prabowo dan Kang Dedi Mulyadi
Melalui unggahan tersebut, pihak sekolah dan masyarakat Desa Guwa Kidul melayangkan permohonan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar turun tangan memberikan keadilan.
“Pak @prabowo, Kang @deddymulyadi71, mohon dengar jeritan hati kami. Anak-anak Indonesia butuh sekolah, bukan sekadar janji di atas puing-puing bangunan,” tulis mereka dalam sebuah pesan terbuka.
Pendidikan Adalah Hak Dasar
Melihat puing-puing bangunan yang tersisa, masyarakat berharap agar pemerintah daerah maupun pusat segera memberikan atensi.
Pendidikan adalah hak dasar yang dijamin undang-undang, dan penggusuran tanpa solusi bagi siswa TK di Guwa Kidul dinilai sebagai langkah mundur bagi kualitas pendidikan di daerah.
Kini, para guru dan orang tua hanya bisa berharap agar suara mereka terdengar hingga ke istana, sehingga mimpi anak-anak di Desa Guwa Kidul tidak terkubur bersama puing-puing sekolah mereka.***
Penulis : Bar Bernad





![BPTJ akan membatasi truk angkutan barang di masa libur Nataru 2023, mulai 24 Desember. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/tom]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2026/03/29108-jalan-tol-jakarta-cikampek-ditutup-imbas-demo-buruh-di-cikarang-225x129.webp)





![BPTJ akan membatasi truk angkutan barang di masa libur Nataru 2023, mulai 24 Desember. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/tom]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2026/03/29108-jalan-tol-jakarta-cikampek-ditutup-imbas-demo-buruh-di-cikarang-360x200.webp)














