Jeritan yang Tak Didengar: Membaca Ulang Tragedi SMAN 72

- Redaksi

Jumat, 14 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI RUANG – ruang kelas, kita sering berpikir bahwa hiruk-pikuk remaja hanyalah fase pencarian diri. Namun kadang, di balik tawa yang riuh dan langkah-langkah yang tampak biasa, tersimpan cerita-cerita rapuh yang tak pernah sampai pada orang dewasa yang seharusnya melindungi.

Tragedi peledakan di SMAN 72 menjadi pengingat pahit bahwa luka yang tidak ditangani bisa tumbuh menjadi badai.

Insiden yang awalnya diposisikan sebagai tindakan kriminal murni ini, perlahan membuka lapis-lapis kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Eks Kepala Densus 88, Komjen Pol Marthinus Hukom, saat di acara Nusantata TV membongkar fakta yang selama ini luput dari sorotan: pelaku ternyata seorang korban—korban perundungan yang telah dipendam sejak ia kecil, korban yang pernah meminta tolong namun tidak ada tangan yang terulur.

Ketika Laporan Jatuh ke Telinga Tuli

Ada satu momen yang seharusnya menjadi titik balik: saat sang pelaku melapor kepada guru, berharap ada perlindungan.

Namun laporan itu berhenti sebagai getaran udara—didengar, tetapi tidak dipedulikan. Dibiarkan menggantung tanpa solusi.

“Akibatnya sangat fatal,” ujar Marthinus. Dan benarlah, fatal bukan hanya bagi korban-korban di kemudian hari, tetapi bagi jiwa pelaku itu sendiri—jiwa yang retak, terluka, dan akhirnya mencari jalan keluar melalui tindakan ekstrem.

Di dunia psikologi, respons dasar manusia terhadap ancaman hanya dua: lari atau melawan. Pelarian telah ditempuh—melapor, meminta tolong.

Ketika itu tak menghasilkan apa-apa, naluri kedua mengambil alih. Melawan. Meledak. Menghentak. Dan seperti banyak kisah suram lain, dunia baru mendengar ketika dentumannya sudah telanjur terjadi.

Mengapa Ada Orang yang Memilih Kekerasan untuk Didengar?

Marthinus menyandarkan penjelasannya pada satu konsep kunci dalam psikologi sosial: striving for recognition, atau perjuangan untuk diakui.

Ini adalah mekanisme batin seseorang yang merasa dilemahkan oleh dunia luar, lalu berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan seperti yang orang lain bayangkan.

Di sini, kekerasan menjadi bahasa yang dipilih—bahasa yang keras, destruktif, dan menyimpang, namun dalam kondisi tertentu terasa sebagai satu-satunya cara untuk berkata: “Aku ada. Aku terluka. Dan kalian tak pernah benar-benar melihatku.”

Pelaku dulunya dicatat sebagai sosok yang lemah, terpinggirkan, dan frustrasi. Ketidakberdayaan itu bertumpuk menjadi bara.

Ketika akumulasi emosi itu mencapai titik jenuhnya, ia berubah menjadi ekspresi ekstrem yang “super terpelajar”—aksi kekerasan yang direncanakan, yang menuntut perhatian, yang pada akhirnya berhasil membuat dunia menoleh.

Sayangnya, pengakuan itu datang terlambat.

Lonceng Peringatan untuk Kita Semua

Tragedi SMAN 72 bukan sekadar insiden di satu sekolah. Ia adalah potret kegagalan kolektif: sekolah yang tidak peka, lingkungan yang tidak aman, ekosistem pendidikan yang lebih sibuk menertibkan daripada mendengarkan.

Marthinus mengingatkan: tidak boleh ada satu laporan pun dari anak tentang perundungan yang diabaikan. Setiap laporan, sekecil apa pun, adalah sinyal bahaya. Abaikan satu, maka kita sedang memberi ruang bagi kemarahan untuk tumbuh tanpa arah.

Kita harus jujur pada diri sendiri: berapa banyak suara siswa yang tidak didengar? Berapa banyak anak yang keluar kelas dengan senyum tipis, padahal hatinya seperti tanah longsor?

Agar Kisah Ini Tidak Berulang

Tragedi ini memaksa kita untuk meninjau ulang sistem pendidikan dan penegakan hukum, bukan sekadar pada soal keamanan sekolah, tetapi juga pada kapasitas kita sebagai orang dewasa untuk mendengar. Untuk menangkap sinyal-sinyal kecil itu sebelum berubah menjadi ledakan dahsyat.

SMAN 72 memberi kita pelajaran pahit: bahwa setiap anak yang merasa tidak dilihat bisa berubah menjadi ancaman bagi diri sendiri maupun orang lain.

Bahwa pengakuan yang tidak pernah diberikan dengan cinta dapat dituntut dengan cara yang melukai.

Ada saat ketika semua ini masih bisa dicegah. Namun saat itu telah lewat.

Yang tersisa kini adalah kesadaran baru: bahwa setiap jeritan yang tak didengar suatu hari bisa kembali—dalam bentuk yang lebih keras, lebih gelap, dan lebih mematikan.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias
Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia
Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara
Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara
Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial
Amarah, Api yang Menghanguskan dan Pemicu Perubahan
Bencana Antropogenik Sumatera 2025: Luka yang Dibuat, Bukan Ditakdirkan
Al-Kindi: Sang Filsuf Arab Pertama Penjaga Gerbang Akal dan Wahyu

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:35 WIB

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:58 WIB

Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:09 WIB

Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara

Senin, 15 Desember 2025 - 21:06 WIB

Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara

Senin, 15 Desember 2025 - 10:24 WIB

Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial

Berita Terbaru