Jakarta, Mevin.ID — Presiden ke-7 RI Joko Widodo tiba di Singapura untuk menghadiri Bloomberg New Economy Forum 2025, ajang bergengsi yang mempertemukan pemimpin dunia, para inovator teknologi, hingga bos-bos keuangan global.
Pada hari pertama, Jokowi langsung mengikuti sesi pembukaan dan dijadwalkan menyampaikan pidato utama pada Jumat, 21 November 2025.
Ajudan Presiden, Kompol Syarif Fitriansyah, memastikan agenda tersebut.
“Bapak diberikan kesempatan untuk memberikan pidato pada hari Jumat,” ujarnya.
Hari ini resmi dibuka 7th Annual Bloomberg New Economy Forum, dihadiri langsung oleh Chairman Michael Bloomberg serta lebih dari 50 tokoh dunia dari pemerintahan dan bisnis global.
Sebagai Dewan Penasihat Bloomberg New Economy, saya dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai arah… pic.twitter.com/gBxdoBudTM
— Joko Widodo (@jokowi) November 19, 2025
Dalam unggahan terbarunya di akun X @jokowi, Jokowi juga menyampaikan apresiasinya atas sambutan dari perwakilan Indonesia di Singapura.
“Terima kasih kepada Duta Besar RI untuk Singapura, Bapak Suryo Pratomo, atas sambutan hangat di Singapura,” tulisnya.
Ia sekaligus menjelaskan alasan kehadirannya.
“Saya hadir untuk mengikuti Bloomberg New Economy Forum, sebuah ruang penting bagi para pemimpin dunia untuk membahas teknologi, dinamika geopolitik, dan ekonomi berkelanjutan,” jelas Jokowi.

Pertemuan dengan CEO Franklin Templeton
Di sela rangkaian forum, Jokowi melakukan audiensi dengan Presiden & CEO Franklin Templeton, Jenny Johnson, figur kunci dalam industri investasi global.
Momen ini menunjukkan penguatan diplomasi ekonomi Indonesia di tengah kompetisi arus modal internasional.
Forum: Bertahan di ‘Age of Extremes’
Forum yang berlangsung 19–21 November 2025 ini mengusung tema besar “Thriving in an Age of Extremes.”
Dinamika global yang makin ekstrem—mulai dari perang teknologi, tensi geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi—membuat forum ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah ekonomi beberapa tahun ke depan.
Peran Jokowi di Meja Strategis Dunia
Sebagai anggota Dewan Penasihat Bloomberg New Economy, Jokowi kini berada di lingkar diskusi global tingkat atas.
Ia menilai masa depan ekonomi tak cukup hanya dikendalikan data—melainkan membutuhkan intelijen ekonomi untuk membaca perubahan dunia secara lebih dini.
“Tantangan-tantangan ke depan ekonomi akan dibahas di sini. Intelijen ekonomi sangat penting,” ungkapnya pada September lalu.
Peran ini juga memperlihatkan bagaimana Indonesia berusaha mengukuhkan posisi sebagai pemain penting dalam geopolitik dan arsitektur ekonomi global.***


























