Jakarta, Mevin.ID — Tugimin berdiri lama di depan rumahnya di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Minggu sore itu. Sorot matanya kosong, seakan masih mencari jawaban dari kabar yang baru diterimanya: ayah tiri Alvaro, cucu yang ia rawat sejak kecil, kini ditetapkan sebagai terduga pelaku penculikan yang berujung maut.
“Kami enggak sangka-sangka bapak tirinya sendiri yang melakukan hal sekeji ini. Alvaro belum punya dosa, kok dijadikan korban?” ucap Tugimin lirih.
Ucapannya pecah bersama napas yang berat. Selama delapan bulan mencari Alvaro, ia sama sekali tak melihat tanda kecurigaan pada AI, menantu yang selama ini ia anggap seperti keluarga sendiri.
Sosok yang Tampak Baik, yang Ternyata Menyimpan Luka
Di mata keluarga, hubungan Alvaro dan ayah tirinya terlihat harmonis. AI sering datang akhir pekan, mengajak Alvaro jajan atau jalan-jalan. Ketika Alvaro hilang pada 6 Maret 2025, AI bahkan beberapa kali menemani Tugimin menelusuri berbagai petunjuk, sampai ke Bogor, hingga larut malam.
“Bapak tirinya itu juga ikut membantu mencari… pulangnya sampai malam.”
Karena itu, kabar penangkapan AI membuat Tugimin merasa dikhianati. Semua kebaikan itu—yang dulu menenangkan—kini justru terasa seperti kedok.
“Ternyata kebaikannya cuma buat nutupin saja… kami benar-benar enggak nyangka.”
Riak-riak Konflik Rumah Tangga yang Baru Terbaca Belakangan
Meski terlihat dekat dengan Alvaro, hubungan AI dengan istrinya, Arumi—ibu kandung Alvaro—ternyata tak selalu mulus. Tugimin mengakui, beberapa kali pernah terlibat sebagai penengah saat AI marah karena teleponnya tak diangkat.
“Kalau nelpon itu enggak cukup sekali. Berulang kali. Arum sering terganggu, soalnya lagi kerja ditelpon terus,” ceritanya.
Percikan masalah itulah yang kini kembali diingat Tugimin, seolah menjadi potongan puzzle yang dulu tak terlihat.
Awal Mula Hilangnya Alvaro: Tiga Hari yang Terlambat Terungkap
Alvaro terakhir terlihat di Masjid Jami Al Muflihun, Pesanggrahan. Barulah tiga hari setelah hilang, Tugimin mendapat kabar dari marbut masjid: ada seorang pria datang, mengaku sebagai ayah Alvaro.
Saat itu, marbut tak menaruh curiga. Ia hanya menunjukkan lokasi anak-anak bermain. Setelah Maghrib dan berbuka puasa, Alvaro tak kembali. Tugimin mulai panik pada pukul 21.30.
“Kok cucu saya belum pulang? Ke mana?”
Pencarian panjang itu baru benar-benar berakhir ketika polisi menemukan kerangka manusia yang diduga Alvaro di Bogor. Kini, hasil Labfor dan DNA tengah menunggu waktu untuk memastikan.
Sebuah Luka yang Tak Sembuh dalam Waktu Singkat
Setelah hilang selama delapan bulan, kabar ditemukannya kerangka serta penangkapan ayah tiri sebagai tersangka menjadi hantaman berat bagi keluarga. Ibu Alvaro, yang bekerja di Malaysia, dilaporkan akan segera kembali ke Jakarta untuk proses identifikasi.
Di tengah semua itu, Tugimin—seorang pensiunan pemadam kebakaran—masih berusaha menerima kenyataan yang terlalu menyakitkan.
“Kami cuma ingin kebenaran. Dan kami ingin Alvaro pulang… meski sekarang pulangnya begini.”***


























