BANDUNG, Mevin.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI AU melaksanakan operasi modifikasi cuaca menggunakan bahan semai kapur tohor (CaO) untuk mendukung kelancaran pencarian dan evakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Operasi yang dilaksanakan pada Minggu (25/1/2026) pagi tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menyatakan bahwa operasi ini bertujuan mengantisipasi potensi hujan ekstrem yang dapat menghambat proses evakuasi.
“Pagi ini kami berada di Bandara Husein Sastranegara untuk menindaklanjuti arahan Pak Gubernur, bahwa dalam rangka mitigasi bencana di Jawa Barat harus dilakukan operasi modifikasi cuaca,” jelas Herman Suryatman, mengutip Instagram Info Bandung Barat.
Mengganggu Pertumbuhan Awan
Direktur Operasi dan Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, memaparkan bahwa metode yang digunakan adalah dengan menaburkan kapur tohor ke dalam awan yang sedang tumbuh. Kapur tohor (CaO) yang bersifat eksotermik akan melepaskan panas, sehingga mengganggu proses kondensasi dan pertumbuhan awan.
“Kapur ini mengeluarkan panas sehingga mengganggu pertumbuhan awan, dan hujannya ditunda. Awan akan buyar, pembentukannya bergeser ke daerah lain,” jelas Budi Harsoyo.
Dengan mekanisme ini, diharapkan awan hujan bergeser ke wilayah lain—dalam hal ini ke arah timur—sehingga tidak terkonsentrasi di zona evakuasi longsor.
Dua Strategi Berdasarkan Pergerakan Awan
Budi menambahkan, BMKG menerapkan dua strategi berbeda berdasarkan kondisi awan yang terpantau melalui radar dan satelit:
1. Jika awan tumbuh di daratan: dilakukan penggangguan pertumbuhan awan dengan kapur tohor (CaO) di sekitar kawasan hulu, seperti Gunung Burangrang.
2. Jika awan bergerak dari laut ke daratan: dilakukan percepatan hujan di atas laut menggunakan natrium klorida (NaCl atau garam) agar hujan tidak sampai jatuh di daratan.
“Kalau dari radar dan satelit terlihat awan akan masuk ke daratan, maka hujannya kita jatuhkan lebih awal agar tidak turun di wilayah operasi evakuasi,” jelasnya.
Target Pengurangan Curah Hujan hingga 40%
Berdasarkan data operasi modifikasi cuaca sebelumnya di wilayah Jabodetabek (22–24 Januari 2026), BMKG memperkirakan teknik ini dapat mengurangi curah hujan sekitar 40% di wilayah sasaran.
Hal ini diharapkan dapat memberi jendela cuaca yang lebih kondusif bagi tim SAR dan relawan yang masih berjuang mencari 80 korban hilang.
Operasi ini menegaskan pendekatan berbasis sains dan teknologi dalam penanggulangan bencana, sekaligus upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, lembaga teknis, dan TNI untuk menyelamatkan nyawa di tengah situasi darurat.***
Editor : Atep K
Sumber Berita: Info Bandung Barat


























