BANDUNG BARAT, Mevin.ID – Aroma kaldu hangat dan dedaunan rempah mengepul dari dapur darurat di lokasi pengungsian longsor Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Di tengah riuh rendah suara kompor dan denting peralatan masak, sorot mata tajam seorang pria berambut perak terlihat fokus mengawasi sebuah wajan besar.
Dia bukan relawan biasa. Dialah David Cayoba, seorang chef profesional asal Prancis yang telah mendedikasikan lebih dari 35 tahun hidupnya di dunia kuliner, dengan 20 tahun di antaranya sebagai koki profesional.
Di hadapannya, bukan bahan makanan impor untuk menu bintang Michelin, melainkan berkarung-karung beras, sayuran, dan bumbu dapur sederhana untuk ratusan pengungsi yang kehilangan rumah.
Gelar, pengalaman internasional, dan jam terbang tinggi semuanya lebur di sini. Yang tersisa hanya satu mantra: masak dari hati.
“Saya senang bisa kembali mengaduk panci bersama para kolega. Kali ini bukan untuk acara mewah, tapi untuk membantu sesama,” ujar David.
Ia menyebut reuni tak terduga ini sebagai momen yang paling bermakna. Momen di dapur umum ini ternyata menjadi ajang reuni emosional.
David bertemu dan kembali berkolaborasi dengan rekan-rekan lamanya dari Indonesian Chef Association (ICA), yang pernah satu dapur dengannya sejak tahun 2012.
Ikatan yang terjalin, salah satunya, saat kolaborasi bersama Chef Tommy Swartow dulu, kini diperkuat lagi di tengah keprihatinan bencana.
Bagi David dan seluruh relawan dapur, yang terjadi di Pasirlangu adalah sebuah pelajaran besar.
Di sini, kuliner bukan sekadar soal rasa di lidah, tapi tentang kehangatan yang mengenyangkan perut dan menghibur jiwa. Setiap centong nasi, setiap sendok sayur, adalah simbol solidaritas yang nyata.
“Semua yang terlibat di dapur umum ini, dari relawan sampai tim di balik layar, adalah orang-orang keren yang bekerja dengan rasa, semangat, dan empati,” tambah David.
Kehadiran chef berkaliber internasional seperti David Cayoba di tengah lumpur dan duka Pasirlangu adalah bukti nyata bahwa kebaikan tidak mengenal batas negara dan gelar.
Respect setinggi-tingginya, bukan untuk jasanya sebagai chef, tapi untuk hatinya sebagai manusia yang peduli.
Di balik bencana, selalu ada cerita tentang kemanusiaan yang membara, dan kali ini, aromanya tercium dari dapur umum yang dipimpin oleh seorang chef Prancis dengan bumbu utama: cinta kasih.***
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad


























