Kelas Menengah Indonesia Menyusut, Ekonomi RI Dibayangi ‘Tepi Ketidakpastian’

- Redaksi

Senin, 2 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kelas Menengah

i

Ilustrasi Kelas Menengah

JAKARTA, Mevin.ID – Struktur ekonomi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Laporan terbaru dari Mandiri Institute mengungkapkan fenomena penyusutan jumlah kelas menengah yang cukup signifikan, memicu kekhawatiran akan stabilitas sosial dan daya beli nasional jangka panjang.

Berdasarkan data tahun 2025, jumlah kelas menengah Indonesia tercatat turun menjadi 46,7 juta orang (16,6% dari populasi), berkurang sekitar 1,2 juta jiwa dibandingkan tahun 2024 yang masih berada di angka 47,9 juta orang (17,1%).

Fenomena AMC: Rentan Terhadap Guncangan

Penyusutan kelas menengah ini diikuti dengan membengkaknya kelompok Aspiring Middle Class (AMC) atau kelompok menuju kelas menengah. Saat ini, AMC mencakup 50,4% populasi atau bertambah 4,5 juta orang.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menilai pergeseran ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh warga Indonesia kini berada di posisi rentan.

“Ekspansi AMC saat ini mencerminkan betapa banyak keluarga yang berdiri di tepi ketidakpastian. Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial, tetapi belum cukup aman untuk mandiri secara finansial,” ujar Wisnu, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (2/3/2026).

Kualitas Pekerjaan Jadi Biang Keladi

Wisnu menyoroti bahwa penyebab utama penurunan ini bukanlah minimnya lapangan kerja, melainkan rendahnya kualitas pekerjaan. Pertumbuhan ekonomi saat ini lebih banyak didominasi oleh:

  • Sektor Informal: Minim jaminan sosial dan kepastian pendapatan.
  • Ekonomi Gig: Pekerjaan yang fleksibel namun tanpa jalur karier yang jelas.
  • Pekerjaan Berproduktivitas Rendah: Stagnasi upah riil yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup.

“Orang bekerja keras, tetapi tangga sosial tidak menjadi lebih panjang. Pertumbuhan ekonomi tanpa kualitas pekerjaan adalah pertumbuhan yang rapuh,” tegasnya.

Ancaman Bagi Stabilitas Nasional

Kondisi ini diperparah dengan melambungnya biaya perumahan, pendidikan, dan transportasi yang menggerus ruang keuangan rumah tangga.

Wisnu memperingatkan bahwa jika tren kontraksi kelas menengah terus berlanjut, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor:

  • Pelemahan Konsumsi: Sebagai motor utama PDB, daya beli yang lesu akan memperlambat ekonomi.
  • Basis Pajak Menurun: Kelas menengah adalah pembayar pajak utama.
  • Risiko Sosial: Munculnya aspirasi masyarakat yang tidak dibarengi dengan mobilitas vertikal dapat memicu ketegangan sosial.

Rekomendasi Kebijakan

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah didesak untuk tidak hanya fokus pada perlindungan kelompok miskin, tetapi juga menciptakan “peredam kejut” bagi kelompok near-middle.

Langkah strategis yang diperlukan mencakup penguatan pendidikan vokasi yang relevan dengan industri, penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, serta perluasan perlindungan sosial bagi pekerja nonformal.

“Kelas menengah bukan sekadar angka statistik. Ia adalah pilar stabilitas dan penjaga optimisme sosial. Jika mesin mobilitas sosial melambat, yang hilang bukan sekadar angka, tapi masa depan ekonomi kita,” pungkas Wisnu.***

Facebook Comments Box

Editor : Bar Bernad

Sumber Berita: Idnfinancials

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Dekati Rp17.000, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Kita Masih Bagus
Gas Pol Transisi Energi, Menteri Bahlil Siapkan ‘Sweetener’ untuk Konversi Motor Listrik
Harga Minyak Dunia Melonjak, Menkeu Purbaya Buka Opsi Pangkas Anggaran Operasional MBG
bank bjb syariah Santuni Anak Yatim: Tebar Kebahagiaan dan Perkuat Kebersamaan di Ramadan 1447 H
Proyeksi Ekonomi RI Jadi Negatif, Airlangga Balas Kekhawatiran Fitch Soal Makan Bergizi Gratis
Perangi Scam! OJK Blokir 436 Ribu Rekening Penipu, Rp566 Miliar Dana Korban Diselamatkan
Selat Hormuz Ditutup, Pemerintah Percepat Impor Minyak dari AS; Projo Apresiasi Langkah Cepat
Menteri UMKM Bongkar Biang Kerok Banjir Impor China: Permainan Kargo dan Oknum Bea Cukai

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 20:06 WIB

Rupiah Dekati Rp17.000, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Kita Masih Bagus

Senin, 9 Maret 2026 - 20:18 WIB

Gas Pol Transisi Energi, Menteri Bahlil Siapkan ‘Sweetener’ untuk Konversi Motor Listrik

Sabtu, 7 Maret 2026 - 11:18 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Menkeu Purbaya Buka Opsi Pangkas Anggaran Operasional MBG

Jumat, 6 Maret 2026 - 20:40 WIB

bank bjb syariah Santuni Anak Yatim: Tebar Kebahagiaan dan Perkuat Kebersamaan di Ramadan 1447 H

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:04 WIB

Proyeksi Ekonomi RI Jadi Negatif, Airlangga Balas Kekhawatiran Fitch Soal Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru