CIANJUR, Mevin.ID – Kasus dugaan keracunan makanan kembali terjadi di lingkungan sekolah. Sebanyak 28 siswa SDN Wargasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa dilarikan ke pusat medis setelah menyantap hidangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (27/1/2026).
Kepala Puskesmas Kadupandak, Suryana, mengonfirmasi bahwa puluhan siswa tersebut datang dengan keluhan medis yang serupa. “Sejak pagi sampai petang total siswa yang menjalani perawatan sebanyak 28 orang. Sebanyak 11 orang siswa di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya terus memburuk,” ujar Suryana.
Gejala Medis dan Penanganan Darurat
Para siswa mulai merasakan gejala hanya berselang beberapa puluh menit setelah mengonsumsi hidangan tersebut. Gejala yang dilaporkan meliputi:
-
Mual dan pusing hebat
-
Muntah-muntah
-
Demam tinggi
Pihak Puskesmas memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan maksimal. Selain itu, sampel makanan dan muntahan siswa telah diambil untuk dikirim ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Cianjur guna uji laboratorium.
Polisi Selidiki Anomali Gejala
Kapolsek Kadupandak, AKP Deden Hermansyah, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan mendalam. Namun, polisi menemukan adanya anomali dalam kasus ini.
“Kami lakukan penyelidikan guna memastikan penyebabnya. Sampel sudah dikirim untuk uji laboratorium, karena ada siswa yang menyantap makanan tapi tidak bergejala, sebaliknya ada yang tidak menyantap namun justru mengalami muntah dan diare,” jelas Deden.
Kesaksian Orang Tua: Menu Ayam Berbau Tidak Sedap
Salah satu orang tua siswa, Indah (36), menduga kuat bahwa keracunan berasal dari salah satu lauk yang disajikan. Menurutnya, gejala muncul sesaat setelah anaknya menyantap hidangan MBG di sekolah.
“Anak saya mengeluh pusing dan mual saat perjalanan pulang. Salah satu menu yang dihidangkan, yaitu ayam bumbu, mengeluarkan bau tidak sedap. Kemungkinan besar dari menu tersebut,” ungkap Indah.
Tanggapan Pihak Penyedia (SPPG Gandasari)
Menanggapi insiden ini, Kepala SPPG Gandasari, Gungun Muparih, membantah jika menu MBG yang mereka distribusikan menjadi penyebab utama. Ia menekankan bahwa standar pengolahan makanan sudah melalui pemeriksaan ketat.
“Untuk pastinya kita tunggu hasil penyelidikan. Sebab, ada siswa yang tidak menyantap juga mengalami gejala, dan ada yang menyantap tapi tetap sehat. Kami selalu memastikan menu yang disajikan sudah melalui pemeriksaan ketat,” tegas Gungun.
Hingga berita ini diturunkan, seluruh pihak masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinkes Cianjur untuk memastikan apakah insiden ini murni keracunan makanan dari program MBG atau ada faktor lingkungan lainnya.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Antara

























