Ketika Gajah Abu, Mido, Ajis, dan Noni Membersihkan Puing: Ironi di Tanah yang Kehilangan Hutannya

- Redaksi

Selasa, 9 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang ditunggangi mahout bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan personel Polri membersihkan puing kayu yang menutupi jalan dan permukiman warga akibat bencana alam di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh, Senin (8/12/2025). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak yang ditunggangi mahout bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan personel Polri membersihkan puing kayu yang menutupi jalan dan permukiman warga akibat bencana alam di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh, Senin (8/12/2025). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

DI TENGAH hamparan puing kayu yang memenuhi pemukiman warga Pidie Jaya, Aceh, empat ekor gajah jinak melangkah perlahan namun pasti.

Tubuh mereka yang besar menyibak tumpukan batang-batang pohon yang berserakan, seolah membuka jalan bagi manusia yang masih terperangah oleh besarnya bencana.

Di atas punggung mereka, para pawang dan petugas konservasi memberi aba-aba, sementara deru bencana yang baru saja berlalu masih terasa menggantung di udara.

Dari udara, pemandangan ini tampak seperti paradoks yang hidup: empat makhluk hutan yang tangguh bekerja memindahkan kayu-kayu gelondongan—banyak di antaranya adalah sisa dari hutan yang dulu juga menjadi rumah mereka.

Tim gabungan mengerahkan beberapa ekor gajah Sumatra untuk membantu membersihkan tumpukan kayu gelondongan di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh pada Senin 8 Desember 2025.

Gajah yang Menolong, pada Tanah yang Menyakiti Mereka

Pagi itu, sinar matahari menerpa puing-puing rumah, pohon tumbang, dan tanah basah—bekas luapan banjir bandang yang menerjang permukiman.

Di antara reruntuhan itu, seekor gajah mengangkat balok kayu yang beratnya mungkin lebih dari beban satu mobil kecil.

Belalainya melilit batang kayu, menariknya keluar layaknya seorang pekerja yang tanpa keluhan menanggung tugas berat.

Dari dekat, wajah gajah itu tampak letih namun sabar. Ia tidak mengeluh. Tidak menggertak. Tidak marah.

Namun di balik ketenangan itu, ada ironi yang sulit diabaikan.

Mereka—gajah-gajah ini—sedang membantu manusia membersihkan sisa kehancuran yang sebagian besar dipicu oleh ulah manusia sendiri: penebangan liar, penyusutan hutan, pembukaan lahan, dan rakusnya eksploitasi ruang hidup.

Seekor gajah sedang mengangkut puing kayu pasca banjir bandang dari pemukiman penduduk di Gampong Meunasah Bie Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Senin (8/12/2025). ANTARA/Rahmat Fajri

Kayu Gelondongan yang Mengalir ke Rumah Warga

Empat perusahaan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru telah disegel, dan delapan lainnya masih diperiksa.

Pemeriksaan awal pemerintah mengungkap bahwa kayu-kayu besar yang menghantam rumah warga bukan hanya hasil pohon tumbang alami, tetapi juga material kayu yang masuk tidak alami ke badan sungai—sebuah frasa halus untuk menyebut jejak pembalakan.

Sementara itu, di lokasi bencana, efek fisikalnya telanjang di depan mata: rumah-rumah yang rebah, jalan yang dipadati lumpur, dan tumpukan kayu yang menggunung seperti bukti bisu dari hutan yang kalah dalam pergulatan panjang melawan kerakusan manusia.

Dan di tengah itu semua, gajah kembali dipanggil untuk membantu.

@heru_skuyMakasih semua yang udah menyumbang tenaga ke tempat kami di Pidie Jaya, gajah aja bisa bantu, kalian lebih bisa lagi #banjir #aceh♬ suara asli – Heru.skuy – Heru.skuy

Makhluk Hutan yang Tersingkir, Kini Menjadi Penolong

Gajah Sumatra, yang populasinya makin terjepit di antara perkebunan dan tambang, sering dianggap ancaman ketika mereka memasuki kebun warga—sebuah konsekuensi langsung dari rumah mereka yang hilang. Mereka diusir, dilempari petasan, bahkan tak jarang diracun.

Namun hari ini, di Pidie Jaya, mereka kembali menjadi pahlawan.

Mereka yang rumahnya dirusak, kini membantu memperbaiki rumah manusia.

Mereka yang hutan jelajahnya dirampas, kini menjadi tenaga penyelamat di tanah yang terus mengecil bagi mereka.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi—dan sangat menyayat—ketika melihat seekor gajah mengangkat kayu yang mungkin berasal dari pohon yang tumbuh di hutan yang dulu menjadi lintasan nenek moyangnya.

Kita Membuat Bencana, Kita Memanggil Gajah untuk Memperbaikinya

Siklus ironis ini terasa seperti sebuah satire ekologis yang terus berulang.

  1. Hutan dibabat.
  2. Sungai kehilangan penyangga alami.
  3. Banjir bandang terjadi.
  4. Kayu-kayu gelondongan menghantam rumah warga.
  5. Gajah dipanggil untuk mengangkat kayu tersebut.
  6. Gajah kembali ke kandangnya, sementara hutan mereka makin mengecil.

Foto-foto dari lokasi bencana menunjukkan bagaimana gajah bergerak pelan di antara tumpukan puing.

Di belakang mereka, manusia dengan helm dan seragam terlihat kecil—baik secara fisik maupun simbolik: kecil karena kini kita bergantung pada makhluk yang selama ini kita dorong ke tepian kepunahan.

Belajar dari Leluhur Hutan

Gajah tahu jalan, bahkan ketika manusia tersesat.

Gajah tahu bagaimana melintasi medan sulit, bagaimana membaca tanah, bagaimana memahami alur sungai—pengetahuan yang tidak diajarkan oleh buku, melainkan diwariskan oleh hutan.

Dan mungkin, inilah saatnya manusia belajar lagi dari mereka: bahwa hutan bukan musuh, melainkan rumah yang menopang hidup.

Bahwa sungai bukan jalur limbah, melainkan nadi bagi seluruh makhluk. Bahwa membuka hutan tanpa batas adalah membuka jalan bagi bencana.***

 

View this post on Instagram

 

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seni Menerima Kecewa, Saat Hati Manusia Tak Lagi Menjadi Kiblat Harapan Ala Jalaluddin Rumi
Hati-Hati dengan yang “Remeh”, Pelajaran dari Ali bin Abi Thalib.
Kebijaksanaan di Atas Cangkang: Seni Melambat di Dunia yang Terburu-buru
Di Balik Kemilau Biskita, Menanti Nasib Ribuan Dapur yang Bergantung pada Setoran
Skrining Dini Kesehatan Mental
Diplomasi Dengung, Belajar Menjadi Hamba dari Seekor Lalat
Membedah “Dosa Tata Ruang”: Mengapa Bekasi dan Karawang Tenggelam di Tengah Kejayaan Industri?
Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:45 WIB

Seni Menerima Kecewa, Saat Hati Manusia Tak Lagi Menjadi Kiblat Harapan Ala Jalaluddin Rumi

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:02 WIB

Hati-Hati dengan yang “Remeh”, Pelajaran dari Ali bin Abi Thalib.

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:44 WIB

Kebijaksanaan di Atas Cangkang: Seni Melambat di Dunia yang Terburu-buru

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:11 WIB

Di Balik Kemilau Biskita, Menanti Nasib Ribuan Dapur yang Bergantung pada Setoran

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:29 WIB

Skrining Dini Kesehatan Mental

Berita Terbaru