Bandung, Mevin.ID – Bandung kembali kehilangan wanginya. Di antara deru kendaraan dan semrawut pasar, aroma menyengat dari gunungan sampah di Babakan Ciparay dan Sederhana menampar hidung siapa pun yang lewat. Kota yang dulu dijuluki kota kembang kini seperti kelelahan menanggung bebannya sendiri.
Di TPS Sederhana, tumpukan sampah menjulang hingga hampir menyentuh atap. Plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga bercampur, sementara air lindi berwarna hitam pekat mengalir ke badan jalan. Para pengendara menutup hidung, pejalan kaki menepi, dan pedagang tetap berjualan di tengah bau yang menyesakkan.
“Sudah tiga, empat bulan begini,” ujar Deni, pedagang sayur di Pasar Sederhana, sambil mengibas tangan di depan wajahnya. “Sesak nafas ada, pusing juga. Pembeli banyak yang enggak mau lewat sini karena bau. Tapi mau gimana, kalau berhenti jualan ya enggak makan.”
Situasi serupa terlihat di Babakan Ciparay. Deretan roda pengangkut sampah berhenti di tepi jalan, seolah menyerah pada volume sampah yang tak kunjung terangkut. Jalan menyempit, bau makin menyengat, dan warga hanya bisa berharap truk sampah datang lebih sering.
Di tengah kondisi itu, Dadang Sudardja, Ketua LPBI NU Jawa Barat sekaligus mantan Ketua Dewan Nasional WALHI (2012–2016), menilai persoalan sampah Bandung bukan sekadar soal teknis, tetapi soal keseriusan politik.
“Sejak dulu, masalah utama Kota Bandung adalah sampah. Seharusnya ini sudah dipersiapkan solusinya jauh-jauh hari,” ujarnya.
“Yang dibutuhkan bukan lagi wacana, tapi political will dari pemerintah kota untuk menuntaskan persoalan ini dengan strategi yang berkelanjutan.”
Menurut Dadang, tanpa keberanian politik dan sistem pengelolaan yang terintegrasi, masalah sampah Bandung akan terus berulang seperti siklus tak berujung — menumpuk, menimbulkan bau, lalu dilupakan.
Musim hujan memang sedikit menahan bau, tapi menyisakan kekhawatiran baru. Air lindi yang menggenang bisa menyebarkan penyakit, sementara warga tetap beradaptasi dalam situasi yang seharusnya tak normal.
Kota Bandung mungkin masih tampak indah dari kejauhan, dengan kafe estetik dan taman kota yang rapi. Tapi di sudut-sudut pasar dan TPS yang overload, wangi kota kembang telah tergantikan oleh bau busuk kelalaian.***


























