Ketika “Penyakit” Itu Bernama Negara: Catatan dari Ruang Konseling

- Redaksi

Jumat, 19 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI DALAM ruang kedap suara yang biasanya menjadi saksi bisu patah hati atau trauma masa kecil, Lya Fahmi  menemukan sesuatu yang ganjil. Selama 7,5 tahun berkarier sebagai psikolog klinis, ia sudah terbiasa membedah kerumitan pikiran manusia.

Namun, hari itu berbeda. Dua klien berturut-turut masuk ke ruangannya bukan membawa beban luka pribadi, melainkan sebuah nestapa kolektif yang mereka sebut sebagai “Negara”.

Dinding ruang konseling yang biasanya tenang, mendadak bergetar oleh isak tangis yang lahir dari rasa putus asa menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Luka yang Bukan Milik Pribadi

“Aku merasa seolah rakyat ini tidak ada harganya. Tidak didengarkan, diabaikan pula,” ucap salah satu klien di tengah deru tangisnya. Ia tidak sedang membicarakan pasangan yang toksik atau atasan yang kejam.

Ia sedang membicarakan penanganan bencana di Sumatera. Ia sedang membicarakan rasa lelahnya melihat ketidakadilan yang dipamerkan di depan mata.

Selama ini, isu kesehatan mental sering kali dianggap sebagai urusan “dalam kepala” masing-masing individu.

Namun, apa yang dialami Lya Fahmi membuktikan bahwa kesehatan mental berhubungan erat dengan isu struktural.

Ketika kebijakan publik tumpul dan empati penguasa luntur, dampaknya tidak hanya berhenti di angka statistik atau kolom komentar media sosial; ia merembes masuk ke dalam saraf-saraf rakyat, menjelma menjadi distress yang nyata.

Narasi “menderita sebagai WNI” yang selama ini hanya dianggap sebagai meme atau keriuhan di dunia maya, nyatanya telah mengetuk pintu ruang terapi.

 

View this post on Instagram

 

Normal di Tengah Situasi Abnormal

Menariknya, saat klien tersebut memberikan sebatang cokelat kepada Lya untuk “memperbaiki suasana hati” sang psikolog yang harus mendengarkan amarahnya, Lya justru merasakan resonansi yang sama.

“Bukan kamu yang bikin mood-ku jelek, Mbak. Inkompetensi pemerintah yang membuatku merasa berada dalam mental state yang sama,” tulis Lya dalam curhatan di Instagram pribadinya.

Banyak orang yang merasa mereka “kena mental” karena perilaku pemerintah. Namun, Lya memberikan perspektif yang membebaskan: Merasa marah, sedih, dan bergejolak melihat ketidakadilan bukanlah sebuah gangguan kejiwaan. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa Anda sehat.

Dalam dunia yang sedang tidak baik-baik saja, bereaksi secara normal terhadap situasi yang abnormal adalah bukti bahwa nurani Anda masih berfungsi. Marah pada ketidakadilan adalah validasi bahwa Anda masih memiliki nilai-nilai kebaikan yang dijunjung tinggi.

Bertahan dari “Gaslighting” Struktural

Fenomena ini memicu reaksi beragam dari masyarakat. Ada yang memilih strategi bertahan hidup dengan cara mematikan televisi atau melewati (skip) video pidato pejabat yang dianggap hanya melakukan gaslighting dan playing victim.

Mereka memilih fokus pada aksi nyata—donasi dan doa—daripada harus mengonsumsi pernyataan publik yang justru melukai kewarasan.

Ada pula yang merasa lega setelah divalidasi oleh sang profesional. Kalimat “Aku sehat, pemerintahnya yang gila” menjadi semacam mantra penyembuh bagi mereka yang selama ini mempertanyakan kewarasan diri sendiri di tengah carut-marut birokrasi.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di ruang konseling Lya Fahmi adalah sebuah alarm. Jika kesehatan mental warga negara mulai terganggu bukan karena masalah personal, melainkan karena perilaku mereka yang memiliki wewenang, maka mungkin yang perlu “diobati” bukan hanya rakyatnya, melainkan sistem yang menaunginya.

Sebab, di mana lagi rakyat bisa merasa aman, jika di rumahnya sendiri mereka merasa tak berharga?***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia
Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi
Persoalan Sampah di Kota Bandung, Ujian Kepemimpinan di Kota Kembang
Nasib BIJB Kertajati Majalengka di Ujung Tanduk
Mengintegrasikan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Sekolah dan Desa
Leuser Dikorbankan, Rakus Kekuasaan, Abainya Negara, dan Diamnya Kita
Kedokteran Jiwa Ibnu Sina, Mengelola Batin Sebagai Fondasi Kesembuhan
Pulang ke Rumah yang Sesungguhnya, Refleksi Atas Cinta dan Kesedihan

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 10:39 WIB

Filosofi Sampah, Ironi Sesuatu yang Tak Berharga Namun Mampu Melumpuhkan Dunia

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:01 WIB

Sering Terluka? Mungkin Hatimu Terlalu Banyak Menampung Titipan, Ini Kata Rumi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 10:37 WIB

Persoalan Sampah di Kota Bandung, Ujian Kepemimpinan di Kota Kembang

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:46 WIB

Nasib BIJB Kertajati Majalengka di Ujung Tanduk

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:22 WIB

Mengintegrasikan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat di Sekolah dan Desa

Berita Terbaru