GARUT, Mevin.ID – Di sebuah rumah sederhana di kawasan padat Kampung Seni Baru, Garut, sebuah perjuangan yang jauh lebih berat dari lapangan rugby sedang dijalani.
Siti Nur Rahayu (22), sang atlet rugby putri yang pernah mengharumkan nama Kabupaten Garut di ajang PON 2024, kini terbaring lemah.
Tubuhnya yang dulu tangguh mengerahkan tenaga untuk bertanding, kini kritis menghadapi pecah usus yang telah menggerogotinya selama dua bulan.
Kisah Siti menjadi buah bibir dan memantik keprihatinan nasional setelah viral di media sosial. Video yang diunggah akun Instagram @pembasmii.kehaluan pada Kamis (5/2/2026) menampilkan gambaran suram di balik sorak-sorai kemenangan olahraga.
Siti terlihat pucat dan tak berdaya dengan mata berkaca-kaca, berjuang sendirian melawan penyakit tanpa adanya jaminan kesehatan atau bantuan yang berarti.
Kejar Medali untuk Daerah, Ditinggal Saat Butuh
Siti adalah contoh atlet daerah yang berhasil: satu-satunya atlet rugby putri asal Garut yang menembus kontingen PON Jabar.
Dedikasinya adalah kebanggaan. Namun, ketika sakit datang, kebanggaan itu seolah menguap.
Dalam percakapan lirih yang terekam video, Siti menjawab pertanyaan tentang bantuan dari pemerintah daerah (Pemda) atau Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
“Sejauh ini dari Pemda maupun KONI, ada pernah memberikan bantuan gak?” tanya pewarta.
“Gak ada,” jawab Siti, singkat namun menyimpan segunung kekecewaan.
Fakta yang lebih memilukan: Siti tidak memiliki Kartu Indonesia Sehat (BPJS) atau jaminan kesehatan apapun.
Keluarganya pun terkatung-katung, kebingungan mencari cara menanggung biaya operasi besar yang mendesak.
Di puncak kelemahannya, atlet yang pernah membawa nama daerah kini justru merasa dilupakan.
“Saya hanya ingin sembuh,” ungkapnya.
Kritik untuk Pemerintah Daerah
Viralnya kisah Siti memicu gelombang solidaritas sekaligus kritik tajam dari warganet terhadap pemerintah daerah setempat.
Komentar-komentar di media sosial mempertanyakan peran para pejabat di tingkat RT, RW, hingga Bupati.
Akun @lamadafood_ menyoroti, “Kok RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Wali kotanya Kok diam aja. Kenapa Harus Gubernurnya Yg turun langsung. Harusnya RT atau RW uruskan KIS untuk anak Itu.”
Sementara itu, akun @nie_sany dengan tegas mengetuk, “Kamarana atuh pejabat Garut???” menanyakan keberadaan para pejabat.
Ada pula komentar yang menyoroti ironi, seperti dari @bayustwnn1: “tau dari kompas tv, bukan dari pemerintahan setempat damnnnn, disenggol gubernur tuh, yakin gak malu?” mengacu pada kemungkinan Gubernur Jawa Barat yang mengetahui berita ini dari media, bukan dari laporan aparat di bawahnya.
Kisah Siti Nur Rahayu bukan sekadar cerita tentang sakit. Ini adalah potret retak dari sistem pembinaan atlet daerah, terutama untuk cabang olahraga yang tidak sepopuler sepak bola.
Pertanyaan besar menggelayut: sejauh mana tanggung jawab pemerintah daerah dan induk organisasi olahraga dalam memastikan kesejahteraan atlet, bukan hanya saat mereka berprestasi, tetapi juga ketika mereka jatuh dan membutuhkan?
Mengetahui kabar pilu yang tengah dialami Siti dari salah satu stasiun televisi swasta, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengakui merasa malu, kenapa kabar ini tidak datang dari pemerintahan setempat Pemkab Garut.
Atas fakta miris ini, Dedi Mulyadi pun menurunkan tim Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat untuk menangani masalah kesehatan Siti Nur Rahayu secara total.***
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad


























