Bandung, Mevin.ID – Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Pusat, Dedi Kurniawan, menyoroti diamnya para wakil rakyat terkait polemik berkepanjangan Bandung Zoo yang sudah berlangsung empat bulan.
Menurutnya, baik DPRD Kota Bandung maupun Komisi IV DPR RI seolah tak hadir mengawasi maupun memediasi persoalan yang menyangkut keselamatan satwa dan masa depan kawasan hijau di Taman Sari.
“Wakil rakyat jangan tidur ketika rakyat dan satwa menunggu kepastian,” ujarnya.
Konflik Dua Yayasan, Kebijakan Diabaikan, Pemerintah Daerah Dinilai Lalai
Dedi menilai konflik internal dua yayasan yang berebut kendali Bandung Zoo justru dibiarkan berlarut-larut hingga mengorbankan banyak pihak. Ia menuding ada kebijakan yang diabaikan, pembiaran berkepanjangan, bahkan indikasi tindakan melampaui kewenangan oleh Pemkot Bandung melalui BKAD. Ia juga menyebut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan—khususnya Dirjen KSDAE—tidak serius menangani persoalan ini.
“Semua masalah ini tidak pernah menjadi isu formal dalam rapat-rapat DPRD. Seolah tidak penting, padahal dampaknya besar,” kata Dedi.
Satwa Terancam, Warga Taman Sari Terimbas, Karyawan Terdampak
Menurut FK3I, konflik ini tidak boleh hanya dilihat sebagai perebutan pengelolaan. Ada nyawa dan kehidupan yang terdampak:
- satwa yang statusnya milik negara dan kini terancam kesejahteraannya,
- warga Taman Sari yang penghidupannya bergantung pada operasional kebun binatang,
- serta karyawan Bandung Zoo yang terkatung-katung tanpa kepastian.
“Eksekutif terlihat lambat, bahkan terindikasi masuk terlalu jauh dalam konflik. Ini harus segera dihentikan,” tegas Dedi.
Tuntutan FK3I: Buka Kembali Bandung Zoo, Legislatif Harus Bergerak
FK3I meminta langkah konkret dari legislatif: mendesak pembukaan kembali Bandung Zoo sebagai ruang edukasi sekaligus sumber pendapatan untuk pakan satwa dan gaji karyawan.
Dedi menyatakan, FK3I sejak tiga bulan lalu telah melakukan penggalangan dana untuk pakan satwa dan advokasi nonlitigasi. Namun upaya tersebut tidak cukup jika pemerintah terus menutup telinga.
“Birokrat sudah kami desak, tapi seakan tidak ada yang mau mendengar,” ujarnya.
Ancaman Aksi Jalanan: “Sampai Menang”
Karena tak ada respons memadai, FK3I berencana menggelar konsolidasi besar bersama kader konservasi, pecinta alam, pegiat lingkungan, dan pengamat konservasi. Arah gerakannya jelas: aksi turun ke jalan.
“Kami akan turun ke jalan sampai menang,” tutupnya.***


























