Sumatera Barat, Mevin.ID — Di antara tumpukan batu sebesar kepala kerbau, puing kayu yang patah, dan aroma lumpur yang masih pekat setelah galodo Kamis (27/11), Erik Andesra berdiri mematung.
Setiap suara alat berat membuat dadanya berdegup lebih keras, seakan-akan detik berikutnya akan menjawab satu pertanyaan yang ia bawa sejak hari pertama bencana: “Di mana Mama?”
Lima anggota keluarganya hilang dalam banjir bandang itu. Namun satu nama membuat kakinya bergetar setiap kali disebut: Ernita, ibunya.
“Saya dapat kabar… mama masih di rumah. Rumahnya sudah hancur,” katanya pelan, mengingat detik ketika harapannya runtuh bersama bangunan kayu yang tersapu air bah.
Di Persimpangan Itu, Hanya Ada Lumpur dan Batu-Batu Besar
Erik masih ingat ketika ia tiba di persimpangan dekat rumah ibunya pada hari kejadian. Tidak ada lagi tanah kering untuk berpijak—hanya genangan lumpur yang bercampur dengan batu-batu besar yang terseret dari hulu.
“Saya ingat badan saya tiba-tiba lemas. Rumah mama sudah tidak kelihatan,” kenangnya.
Beberapa menit ia berdiri tanpa tahu harus menuju ke mana. Beberapa orang berteriak, sebagian lagi sibuk mencari keluarga masing-masing. Erik ikut berlari, memanggil nama ibunya, berharap suara itu dibalas. Tidak ada jawaban.
Ide Gila: Merental Alat Berat Demi Temukan Ibunya
Setelah dua hari pencarian tanpa hasil, Erik mengambil keputusan yang ia sebut “ide paling nekat dalam hidupnya.” Melihat sebuah alat berat yang sedang bekerja di Jorong Subarang Aie, ia langsung mendekati operatornya.
“Saya coba nego-nego. Saya bilang, saya cuma mau cari mama di puing yang saya curigai,” ujar Erik.
Operator itu akhirnya luluh. Erik ikut naik ke lokasi, membantu mengarahkan ekskavator ke titik yang ia yakini sebagai bekas rumah ibunya. Sabtu sore hingga malam, mereka bekerja dalam minim cahaya. Berkali-kali alat berat menyingkap kayu dan batu, namun tidak menemukan apa-apa.
Hingga akhirnya malam memaksa mereka berhenti. “Kami takut salah gerak dan membahayakan jasad mama,” kata Erik.
Malam itu, ia pulang tanpa hasil, tapi tidak tanpa doa.
Pagi yang Menjawab Segalanya
Keesokan paginya, Erik kembali bersama Tim Basarnas. Alat berat kembali bekerja, perlahan menyingkirkan sisa-sisa rumah yang pernah menjadi tempat ibunya memasak, menyimpan mukena, dan menyambut anak-anaknya.
Tiga jam berlalu, sebelum salah satu relawan berseru. Operator menghentikan mesin. Basarnas mendekat.
Di bawah puing rumah yang sudah lumat oleh galodo, jasad Ernita ditemukan—tenang, tidak terseret jauh, dan masih mengenakan mukena.
“Mama meninggal dalam keadaan salat. Jasadnya ditemukan masih pakai mukena,” ucap Erik, suaranya pecah.
Dari cerita keluarga yang selamat, pada detik-detik terakhir, Ernita sedang menunaikan salat di dalam rumah ketika air bah datang dengan kecepatan yang tak memberi ruang untuk melangkah.
Galodo yang Mengubah Peta, Mengubah Hidup
Bagi warga setempat, galodo tahun ini bukan sekadar bencana alam. Ia menelan rumah, tubuh, ingatan, dan cerita keluarga yang tidak akan kembali. Namun bagi Erik, galodo itu mengambil satu sosok yang tidak tergantikan.
Dalam tragedi yang merenggut banyak nyawa dan merusak puluhan desa di Sumatera Barat, kisah Erik adalah potret paling sunyi dari seorang anak yang menolak menyerah pada kehilangan. Bahkan ketika harapan menipis, ia tetap menggali—dengan tangan, dengan alat berat, dengan doa.
Di antara puing itu, ia menemukan ibunya. Tidak lagi dalam kehidupan, tetapi dalam keteguhan terakhir seorang perempuan yang pergi dalam sujudnya.***
Sumber Berita: BBC Indonesia

























