BANDUNG BARAT, Mevin.ID – Di tengah kepedihan dan ketidakpastian yang menyelimuti Desa Pasirlangu pasca-bencana, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar hadir, berjuang untuk mengungkap identitas korban. Pos Kesehatan juga didirikan untuk merawat mereka yang terselamatkan dari amukan bencana.
Titik pertama adalah sebuah pos sederhana berisi peralatan forensik mutakhir, tempat sebuah tim dengan teliti bekerja mengembalikan identitas.
Titik kedua adalah pos kesehatan di pengungsian, di mana bantuan medis dan senyuman hangat menjadi obat untuk luka yang tak terlihat.
Ini bukan sekadar laporan operasi, tetapi sebuah kisah tentang upaya memberikan kejelasan bagi yang berduka dan pemulihan bagi yang selamat.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik agar proses identifikasi berjalan cepat, akurat, dan tetap manusiawi,” tegas Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Hendra Rochmawan.
Kalimat “tetap manusiawi” menjadi filosofi yang dipegang teguh oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar di lapangan. Di dalam Pos DVI, mereka bekerja dalam dua sisi yang saling melengkapi.
Unit Ante Mortem, yang dengan hati-hati mengumpulkan data dan keterangan dari keluarga yang hilang, dan Unit Post Mortem, yang di ruang pemeriksaan forensik, menyatukan setiap petunjuk dari jenazah yang ditemukan.
Hingga Sabtu (24/1/2026), kerja keras tim telah membuahkan hasil. Dari 10 kantong jenazah yang diterima, enam identitas telah berhasil dikembalikan: Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), dan M. Kori (30).
Setiap nama yang teridentifikasi bukan hanya sebuah data, melainkan sebuah pintu bagi keluarga untuk memulai proses perpisahan dan penerimaan.
Mengidentifikasi korban adalah tugas yang sangat berat secara emosional, tetapi menjadi sangat bermakna ketika mereka bisa mengembalikan seorang ayah, ibu, atau anak kepada keluarganya dengan identitas yang jelas. Itulah bagian dari ‘pelayanan manusiawi’ yang kita junjung.
Pulihkan Trauma
Sementara tim DVI bekerja untuk yang telah tiada, di area pengungsian, tim kesehatan Polda Jabar hadir untuk merawat mereka yang selamat.
Pos Pelayanan Kesehatan yang didirikan tidak hanya menangani luka fisik atau penyakit ringan seperti ISPA, tetapi juga menjadi garda depan dalam mendeteksi trauma psikologis pasca-bencana.
“Kehadiran pos kesehatan di lokasi juga merupakan wujud nyata kepedulian Polri agar pengungsi mendapatkan layanan kesehatan yang layak di masa pemulihan ini,” tambah Kombes Pol. Hendra Rochmawan.
Di pos ini, para ibu hamil dan lansia mendapat perhatian khusus. Tenaga kesehatan juga aktif memberikan edukasi tentang kebersihan dan pencegahan penyakit di lingkungan pengungsian yang padat.
Perjalanan Masih Panjang
Saat ini, perjuangan tim DVI belum usai. Empat kantong jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi intensif dengan teknologi forensik. Setiap detail—sidik jari, rekam gigi, hingga pemeriksaan DNA—diperiksa dengan ketelitian tertinggi.
Dua pos ini, Pos DVI dan Pos Kesehatan, meski memiliki fungsi yang berbeda, pada hakikatnya menyuarakan hal yang sama: bahwa di tengah bencana, martabat manusia harus tetap dijunjung tinggi.
Di balik seragam dan prosedur teknis, ada sebuah upaya kolektif untuk memeluk kemanusiaan dengan cara yang paling dalam—dengan memberi nama pada yang hilang, dan memberi perawatan pada yang bertahan.***
Editor : Atep K
Sumber Berita: Polda Jabar

























