Koperasi dan Kelapa Sawit: Apa maknanya?

- Redaksi

Minggu, 16 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan Kelapa Sawit

KOLOM AGUS PAKPAHAN

SIAPA yang tak mengenal kelapa sawit sekarang ini tentunya populasinya sedikit sekali. Paling tidak bagi para pengguna minyak goreng pasti sudah mengenalnya sebagai minyak sawit.

Tapi kalau pohon kelapa sawit yang sekarang ini ditanam di areal perkebunan kelapa sawit seluas 17 juta hektar sehingga pohonnya akan berjumlah mencapai sekitar 28 miliar pohon berasal dari 4 pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1848, masih jarang yang mengetahuinya.

Demikian pun pengetahuan bahwa kelapa sawit berasal dari Afrika Barat juga masih jarang.

Sekarang ini Indonesia menjadi negara dengan produksi dan luas areal kelapa sawit terbesar dunia, walaupun jenis tanaman ini bukan asli tanaman Indonesia.

Baca Juga : Kementerian ATR/BPN Percepat Penerbitan HGU untuk 537 Perusahaan Sawit

Mungkin sebagian besar dari kita juga sudah tidak lagi mengingat bahwa pedagang segala bangsa berdatangan ke Nusantara ini asalnya adalah mencari komoditas perkebunan yang sangat terkenal pada zamannya, yaitu rempah-rempah.

Pedagang Arab, Persia, India, dan China merupakan pedagang kelompok pertama. 500 tahun sebelum masehi, konon kaum elit kerajaan Romawi sudah menggunakan rempah-rempah dalam kehidupan sehari-harinya.

Baca Juga : Kemitraan Sawit Indonesia-Malaysia: Kunci Produksi Dunia

Pasukan Intelejen Romawi pernah mencari jalan dari mana asalnya rempah-rempah ini. Tidak bisa menemukannya akibat jejaring perjalanan menuju pusat rempah-rempah dunia yaitu Nusantara ditutup rapat oleh para pedagang-pedagang yang berada di antara Romawi dan Nusantara.

Dengan bukti penukaran Pulau Run di Maluku dengan pulau Manhattan di New York pada 31 Juli 1667 antara Inggris dan Belanda di kota Breda, Belanda, ini menandakan bahwa rempah-rempah nilainya sangat tinggi ketika itu.

Baca Juga : Dampingi Presiden RI Bertemu PM Malaysia, Mendag Busan: Kerja Sama Sektor Sawit akan Diperkuat

Jarang juga kita mengingat perkembangan sejarah perkebunan selama ini. Tadi disebutkan pentingnya perkebunan pada era pertama adalah rempah-rempah dimulai sejak kejayaan Romawi.

Masa keemasan rempah-rempah surut pada tahun 1700-an. Kemudian masuk ke era kejayaan kopi. Masa kejayaan kopi surut pada akhir 1800-an.

Masuk komoditas perkebunan yang sangat populer waktu itu: gula, di mana Hindia Belanda menjadi pengekspor gula terbesar ke-2 dunia pada 1930-an. Masa kejayaan gula Indonesia juga habis pada era 1930-an.

Baca Juga : Indonesia Menang di WTO: UE Terbukti Diskriminasi Kelapa Sawit

Masuklah karet sebagai komoditas perkebunan penting ketika itu. Kejayaan karet habis pada 1960-an. Masuk kehutanan dan migas. Kejayaan kehutanan periodenya pendek, dan berakhir pada 1980-an.

Demikian pun migas. Pada 1980-an masuk kelapa sawit yang didukung oleh kebijakan PBSN (Perkebunan Besar Swasta Nasional).

Baca Juga : Pemkab Tolitoli Ajak Masyarakat Tingkatkan Produktivitas Kelapa Sawit

Pertanyaan: Apakah nasib perkebunan kelapa sawit akan sama dengan nasib komoditas perkebunan lainnya?

Saya menjawab akan sama apabila koperasi petani kelapa sawit Indonesia (KPKSI) tidak dibangun secara serius, seksama dan berkelanjutan.

Trend jangka panjang harga minyak kelapa sawit di pasar dunia 1850-2020 ( tahun 1900 = 100)

Gambar di atas menunjukkan bahwa harga riil (rasio terhadap harga tahun 1900) dipandang dari trend jangka panjang adalah menurun.

Satu aspek ini saja mestinya sudah mengundang investasi pemikiran yang serius, apalagi mengingat pengalaman masa lalu, yaitu krisis perdagangan komoditas dunia seperti yang telah disebutkan menjadi penyebab hilangnya masa kejayaan komoditas tersebut.

Karena itu, jangan sampai terlambat kejayaan kelapa sawit ini harus dijaga dan cara menjaganya adalah membangun koperasi petani perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Kalau sekarang petani kelapa sawit kesulitan mendapatkan modal, akses terbatas ke perbankan, tidak bisa mendapatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkannya, daya tawar-menawar dengan pihak lain lemah, jauh dari kemajuan teknologi, dan karakter sejenisnya adalah akibat dari rancang bangun institusinya.

Institusi warisan sejarah perkebunan yang sifatnya eksploitatif dan berlangsung dalam jangka yang sangat lama, dan kemudian di-reinforce secara berkelanjutan, maka jadilah perangkap sosial budaya yang sangat sulit untuk diubah.

Tetapi tidak ada jalan lain kalau perkebunan kelapa sawit Indonesia ingin terus berjaya.

Baca Juga : Imajinasi Petani Padi Bersenyawa dalam KPPI dan Bekerjasama dengan Koperasi Bulog Indonesia

Bagaimana cara mengubahnya?

Kerangka berpikir untuk mengubahnya, yaitu dimulai dengan menggunakan cara pandang bahwa lahan perkebunan kelapa sawit petani sebagai aset dan juga produksinya bisa dicatat sebagai aset untuk untuk dan oleh KPKSI. Kalau kerangka berpikir ini kita gunakan, gambaran singkat kekayaan KPKSI adalah sebagai berikut:

  • Luas perkebunan kelapa sawit petani 6,3 juta ha
  • Produksi per hektar 20 ton TBS
  • Rendemen 20 %
  • Produksi CPO/Ha = 4 ton/ha
  • Produksi CPO seluruh kebun petani sawit 25.2 juta ton/tahun
  • Nilai CPO Rp 373 triliun (franco Belawan 14 Februari 2025)
  • Nilai aset lahan Rp 945 triliun
  • Nilai lahan +produksi = Rp 1318 triliun

Catatan: belum termasuk palm kernel oil dan nilai biomassa lainnya seperti biochar, bungkil sawit, dll.

Jadi, dengan membangun sistem akuntansi inklusif yang membuat KPKSI menguasai aset perkebunan kelapa sawit milik petani, tanpa melepas hak kepemilikan tanah perkebunannya, maka koperasi mereka akan memiliki aset minimal senilai Rp 1318 triliun setara dengan US$ 82.4 miliar.

Dengan nilai aset sebesar ini maka Indonesia akan memiliki koperasi terbesar dunia, apalagi ditambah dengan koperasi-koperasi petani lainnya seperti: Koperasi Petani Padi Indonesia, Koperasi Petani Gula Indonesia, Koperasi Petani Karet Indonesia, Koperasi Petani Kopi Indonesia dan lain-lain masih banyak lagi.***

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan lembaga dimana penulis bekerja atau terkait.

AP. Ciburial, 15 Februari 2025.

Agus Pakpahan adalah Rektor Ikopin University, Pakar Ekonomi Kelembagaan.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan
Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka
Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada
Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar
Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026
Ada Apa dengan BEI dan OJK? Ketika Kepercayaan Pasar Diuji, Negara Harus Hadir Menenangkan
Menagih Janji di Balik Etalase Bandung Utama
Sesar Lembang: Literasi Kebencanaan yang Terabaikan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 14:45 WIB

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:23 WIB

Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka

Selasa, 3 Februari 2026 - 23:30 WIB

Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada

Senin, 2 Februari 2026 - 20:46 WIB

Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar

Senin, 2 Februari 2026 - 08:48 WIB

Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026

Berita Terbaru

Berita

Gegara Data Pelamar Bocor, Komdigi Nonaktifkan 3 Pejabat

Rabu, 11 Feb 2026 - 14:44 WIB