ISTANBUL, Mevin.ID – Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah mulai memicu efek domino bagi ekonomi negara-negara Asia.
Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi energi dunia, kini dalam kondisi lumpuh setelah rentetan serangan udara dan melonjaknya risiko keamanan di kawasan tersebut.
Hingga Selasa (3/3/2026), pusat perdagangan internasional melaporkan penurunan volume transit di Selat Hormuz hingga 86 persen dibandingkan rata-rata harian tahun 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran global akan krisis energi yang berkepanjangan.
Jepang dan Tiongkok Desak Penghentian Militer
Jepang menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Sekitar 95 persen impor minyak mentah Negeri Sakura berasal dari Timur Tengah yang melewati selat sempit tersebut.
Laporan terbaru menyebutkan setidaknya 40 kapal terkait Jepang kini tertahan di Teluk Persia.
Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dikabarkan telah memanggil Duta Besar Iran untuk memastikan keselamatan pelayaran.
Sementara itu, Tiongkok melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, mendesak penghentian segera operasi militer demi menjaga stabilitas rute perdagangan internasional yang vital tersebut.
Malaysia dan Pakistan Siapkan Rencana Darurat
Negara-negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia Selatan mulai mengambil langkah antisipasi:
- Malaysia: Departemen Kelautan Malaysia telah mengeluarkan instruksi resmi agar seluruh kapal menghindari Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut.
- Pakistan: Islamabad tengah menyiapkan rencana darurat untuk meminta pasokan minyak mentah pilihan dari Arab Saudi melalui rute Laut Merah jika gangguan berlanjut lebih dari 10 hari. Saat ini, dua kapal tanker milik Pakistan National Shipping Corporation dilaporkan masih terjebak di dekat selat.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Vital?
Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan biasa. Koridor ini menangani:
- 20 juta barel minyak per hari (sekitar seperlima konsumsi minyak harian global).
- Volume besar ekspor Gas Alam Cair (LNG) dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki jaringan pipa alternatif, kapasitasnya dianggap tidak mampu menutupi volume raksasa yang biasanya melintasi Hormuz.
Dampak bagi Indonesia
Meskipun laporan ini berfokus pada negara Asia Timur dan Selatan, situasi ini menjadi sinyal kuning bagi ketahanan energi nasional Indonesia.
Mengingat ketergantungan pada impor minyak mentah dan bahan bakar, gangguan di Selat Hormuz diprediksi akan menekan nilai tukar rupiah dan memicu kenaikan biaya logistik global dalam waktu dekat.**”
Editor : Bar Bernad


























