Yogyakarta, Mevin.ID – Dunia dakwah Indonesia (Senin, 22/12/2025) diselimuti awan duka. Inisiator manajemen masjid modern sekaligus Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir ASP, telah berpulang ke Rahmatullah di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta.
Namun, di balik air mata jamaah yang tumpah, sebuah video rekaman terakhir beliau beredar luas dan menjadi viral. Bukan keluhan sakit yang terdengar, melainkan sebuah “kuliah” terakhir yang sangat menenangkan tentang hakikat kematian.
Menepis Mitos Rasa Sakit Sakaratul Maut
Dalam rekaman yang diambil di ruang perawatan rumah sakit tersebut, Ustaz Jazir tampak terbaring lemah dengan bantuan selang oksigen (nasal kanul).
Meski fisiknya terbatas, sorot matanya tetap jernih dan suaranya terdengar tegas saat mematahkan ketakutan manusia paling purba: rasa takut akan mati.
“Alam Barzakh itu tidak mengerikan, tidak menakutkan, tidak menyakitkan,” ujar beliau dengan tenang.
Beliau seolah ingin menjadi saksi hidup—sekaligus saksi menjelang kematian—bahwa persepsi manusia tentang Izrail yang menjemput dengan kengerian adalah tidak tepat bagi jiwa yang siap.
Ustaz Jazir meminta agar momen tersebut direkam sebagai bukti nyata bahwa dirinya tidak merasakan kegelisahan.
@triyantositrek24434*_Pesan terakhir Ustadz H. Jazir ASP sebagai tausiyah beliau yang terakhir kali dan minta direkam ……Masyaa’Allah._*
“Jasad Menderita, Tapi Jiwa Bahagia”
Bagian yang paling menggetarkan nurani adalah saat beliau menjelaskan dikotomi antara raga dan ruh.
Beliau sadar bahwa orang-orang yang dicintainya mungkin akan merasa pilu melihat tubuhnya dipasangi berbagai alat medis.
“Kalau hari ini saya memburuk, terus mati, jangan resah… Kita melihat dia menderita (karena alat medis), tapi ruh dan jiwanya, itu bahagia,” pesan beliau kepada keluarga dan jamaahnya.
Ustaz Jazir menganalogikan perjalanan pulangnya seperti menuju puncak langit yang membahagiakan. Beliau menekankan bahwa rasa sakit fisik hanyalah apa yang tertangkap oleh mata manusia yang masih hidup, sementara bagi sang musafir yang sedang menyeberang ke Alam Barzakh, perjalanan itu justru dipenuhi kedamaian.
Warisan Lebih dari Sekadar “Saldo Nol Rupiah”
Dunia mengenal Ustaz Jazir sebagai sosok visioner yang mengubah wajah Masjid Jogokariyan menjadi rujukan manajemen masjid dunia dengan konsep “Saldo Nol Rupiah”.
Beliau mengajarkan bahwa uang masjid harus habis untuk melayani umat, bukan disimpan dalam rekening sementara jamaah di sekitarnya kelaparan.
Namun, melalui wasiat terakhirnya ini, beliau meninggalkan warisan yang jauh lebih besar dari sekadar manajemen organisasi: Literasi Kematian.
Beliau mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir yang gelap, melainkan kepulangan yang indah. Ketenangan wajahnya saat berbicara tentang kematian menjadi bukti nyata dari apa yang sering disebut para ulama sebagai Husnul Khotimah (akhir yang baik).
Sugeng kundur, Kyai Jazir. Selamat jalan pulang menuju keabadian. Manajemen masjid yang kau rintis akan terus mengalirkan pahala, dan ketenanganmu dalam menjemput maut akan selalu menjadi oase bagi mereka yang sering kali takut akan hari depan.***


























