PADANG LAWAS UTARA, Mevin.ID – Sebuah pemandangan memilukan mewarnai suasana menjelang berbuka puasa di depan Masjid Raya Gunungtua, Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, Selasa (24/2/2026).
Seorang pedagang takjil nekat membuang seluruh dagangannya ke jalanan sebagai bentuk protes atas penertiban yang dilakukan oleh petugas Satpol PP.
Adu Mulut di Balik Garis Polisi
Ketegangan bermula saat petugas berupaya mensterilkan area depan masjid yang telah dipasangi garis polisi. Dalam rekaman yang beredar, sempat terjadi adu mulut antara pedagang yang didominasi ibu-ibu dengan petugas yang berjaga.
“Bukan Ibu yang salah jualan, tempat Ibu yang salah,” ujar salah satu petugas Satpol PP mencoba memberikan penjelasan di tengah riuhnya suasana.
Namun, instruksi petugas agar pedagang berpindah ke area lain justru memicu luapan kekesalan yang tak terbendung. Merasa ruang geraknya dibatasi di saat waktu berbuka tinggal hitungan jam, pedagang tersebut memilih menghempaskan dagangannya ke aspal daripada harus memindahkannya.
Sorotan Netizen: Belajar dari Solusi Negara Tetangga
Kejadian ini memancing diskusi hangat di jagat maya. Warganet ramai-ramai membandingkan pola penertiban di Indonesia dengan negara lain, seperti China, yang dinilai lebih solutif dalam menangani Pedagang Kaki Lima (PKL).
Beberapa poin yang disoroti netizen antara lain:
- Relokasi Aktif: Petugas tidak hanya mengusir, tetapi turun tangan membantu memindahkan lapak ke lokasi sementara yang tidak mengganggu pengguna jalan.
- Zonasi Strategis: Pemerintah menyediakan lokasi alternatif berjualan secara gratis yang tetap ramai dan mudah dijangkau pembeli, bukan sekadar memindahkan ke tempat sepi.
- Pendekatan Humanis: Penertiban dilakukan dengan dialog jauh hari sebelum hari H, bukan tindakan mendadak di jam-jam krusial mencari nafkah.
Ramadhan dan Momentum Empati
Tragedi “takjil terbuang” di Paluta ini menjadi refleksi besar bagi tata kelola ruang publik di Indonesia.
Di satu sisi, ketertiban jalan memang perlu dijaga demi kenyamanan bersama. Namun di sisi lain, Ramadhan seharusnya menjadi momentum penguatan empati bagi aparat pemerintah.
“Sangat disayangkan, padahal ini bulan penuh berkah. Harusnya ada solusi jalan tengah agar pedagang kecil tetap bisa mengais rezeki tanpa melanggar aturan,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Satpol PP Padang Lawas Utara belum memberikan keterangan resmi mengenai ketersediaan lahan relokasi permanen bagi para pedagang musiman selama bulan suci ini.***
Editor : Bar Bernad















![BPTJ akan membatasi truk angkutan barang di masa libur Nataru 2023, mulai 24 Desember. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/tom]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2026/03/29108-jalan-tol-jakarta-cikampek-ditutup-imbas-demo-buruh-di-cikarang-360x200.webp)










