TEHERAN, Mevin.ID – Jalan-jalan utama di Teheran berubah menjadi lautan manusia pada Minggu (1/3/2026). Ribuan warga Iran tumpah ruah ke jalanan, menyatu dalam duka mendalam untuk mengantarkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ke peristirahatan terakhirnya.
Suasana duka nasional terasa begitu menyayat hati. Isak tangis pecah di antara pelayat yang memadati ibu kota sejak pagi hari.
Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi pusat kekuasaan politik dan spiritual Republik Islam Iran.
Gelombang Duka Bercampur Kemarahan
Prosesi pemakaman yang khidmat perlahan berubah menjadi gelombang kemarahan publik. Peti jenazah Khamenei diarak perlahan diiringi lantunan doa dan ayat suci.
Warga yang berduka meneriakkan slogan-slogan penentangan terhadap Amerika Serikat dan Israel, pihak yang bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan pemimpin mereka.
Kematian Khamenei yang gugur sebagai martir dalam serangan gabungan pada Sabtu (28/2/2026) lalu, membuat duka warga Iran bercampur dengan tekad kuat untuk melakukan pembalasan.
Simbol Balas Dendam Berkibar di Qom
Duka mendalam ini juga ditandai dengan pengibaran bendera merah di atas kubah Masjid Jamkaran di kota suci Qom. Bendera ini merupakan simbol tradisi Syiah yang menuntut pembalasan atas darah yang tumpah secara tidak adil.
Akun media sosial resmi Masjid Jamkaran menegaskan bahwa pengibaran bendera “Ya Lazarat al-Hussein” adalah bentuk tuntutan balas dendam terhadap “penjahat Amerika dan Zionis”.
Pemerintah Iran telah menetapkan 40 hari masa berkabung nasional untuk menghormati Khamenei. Kepergian pemimpin tertinggi ini menandai babak baru yang penuh ketidakpastian dalam sejarah politik Iran dan kawasan Timur Tengah.***
Editor : Bar Bernad


























