BANDUNG, Mevin.ID – Bagi sebagian besar warga Bandung, Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda mungkin hanyalah destinasi akhir pekan untuk menghirup udara segar atau berswafoto di hutan pinus.
Namun, di balik rimbunnya vegetasi seluas 526 hektar ini, tersimpan aktivitas ilmiah yang krusial bagi ekosistem global.
Tahura kini memantapkan posisinya bukan hanya sebagai kawasan konservasi dan edukasi lingkungan, melainkan juga sebagai pusat penelitian penting, terutama dalam pengamatan migrasi burung antarbenua.
View this post on Instagram
Kuliah Umum di Alam Terbuka
Dicky, seorang Panjaga Ekosistem Hutan di bawah UPTD Tahura Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, mengungkapkan bahwa kawasan ini sering menjadi tempat “kuliah umum” yang sesungguhnya bagi para mahasiswa.
“Biasanya mahasiswa belajar sesuai fakultas dan jurusannya, tapi tidak semua didapatkan di perkuliahan. Ada hal-hal di luar itu yang saya sampaikan sebagai rimbawan kepada generasi penerus,” ujar Dicky.
Di sini, para calon tenaga ahli kehutanan termasuk biologi belajar mengenai identifikasi flora, fauna, hingga etika konservasi—apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di kawasan lindung.
Magnet Burung Migran: Dari Eropa hingga Asia Tengah
Salah satu daya tarik utama bagi para peneliti di Tahura adalah fenomena migrasi burung. Dicky menjelaskan bahwa Tebing Keraton menjadi titik krusial untuk mengamati burung raptor (pemangsa).
Di titik ini, alap-alap dan elang seperti Elang Bido, Elang Berontok, dan Elang Hitam sering melintas dan memperlihatkan perilaku alaminya.
Namun, yang paling mencengangkan adalah kehadiran Kicuit Batu atau Motacilla cinerea (Grey Wagtail). Burung kecil ini diketahui bermigrasi dari daratan Eropa dan Asia Tengah (seperti Rusia atau Kyrgyzstan) menuju Tahura Bandung.
“Penelitian menunjukkan ada sekitar 14 sampai 17 ekor di sini. Harapannya, penelitian berikutnya bisa memastikan jenis kelamin, fisiologi, hingga jaringan DNA melalui studi molekuler,” jelas Dicky.
Data ini sangat penting karena jika dikumpulkan dalam kurun waktu lima tahun, dapat menjadi database global untuk melihat dampak pemanasan global (global warming) terhadap perubahan pola migrasi burung.
Tantangan Konservasi dan Ancaman Lingkungan
Meski ekosistem di dalam Tahura relatif terjaga, Dicky tidak menampik adanya tantangan besar di luar kawasan.
Ia juga menyoroti masalah banjir di kawasan Bandung, seperti di Cibiru atau Ciwasra, yang disebabkan oleh hilangnya daerah resapan air dan pelanggaran sempadan sungai.
Dicky menekankan bahwa sungai yang seharusnya memiliki lebar 8 meter kini menyempit menjadi 4 meter akibat pembangunan, ditambah lagi kebiasaan masyarakat yang membelakangi sungai dan menjadikannya tempat pembuangan sampah.
Menjaga Masa Depan
Sebagai penjaga kawasan, Dicky berharap riset-riset dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi dapat terus berlanjut.
Penelitian yang konsisten—meski di lokasi yang sama namun waktu berbeda—adalah kunci untuk memahami dinamika alam yang terus berubah.
Bagi Tahura Ir. H. Djuanda, setiap pohon yang berdiri dan setiap burung yang melintas bukan sekadar pemandangan indah, melainkan data penting yang akan menjawab tantangan krisis iklim di masa depan.***
Penulis : Abdilah Kurniawan
Editor : Atep K


























