Bekasi, Mevin.ID – Sore yang biasanya riuh dengan aktivitas warga di Kampung Ujung Harapan, RT 01/02, Kelurahan Bahagia, Babelan, mendadak berubah mencekam. Sekitar pukul 17.00 WIB, sebuah dentuman keras memecah keheningan, membuat warga spontan keluar rumah dengan wajah panik.
Hanya satu ledakan. Tapi cukup untuk membuat kampung kecil itu porak-poranda oleh ketakutan.
Di balik suara yang menggetarkan itu, seorang pria—pemulung yang sehari-hari mencari rezeki dari limbah—ditemukan tergeletak tak bernyawa di area belakang salah satu rumah warga.
“Kirain cuma gardu atau tabung gas…”
Kholid (42), yang mendengar langsung suara tersebut dari dalam rumahnya, mengaku sempat mengira dentuman itu hanyalah ledakan kecil yang umum terjadi di permukiman padat.
“Saya lagi kerja. Tiba-tiba ada suara ‘duar’, keras banget. Saya kira petasan, gardu PLN, atau tabung gas,” ujarnya kepada Mevin.ID.
Namun ketika keluar untuk memastikan, tidak ada asap, tidak ada api—hanya kebingungan. Hingga ia melihat tubuh seseorang tergeletak kaku di tanah.
“Pas cek ke belakang, ternyata korbannya udah ada di situ. Saya langsung mundur. Ngeri juga,” katanya.
Ledakan tunggal itu cukup membuat warga berlari keluar rumah, beberapa bahkan menjerit ketakutan, khawatir ada ledakan susulan.
Korban Diduga Sedang Mengolah Limbah
Korban, yang dikenal warga sebagai pemulung, diduga sedang mengolah atau memotong sebuah benda sebelum terjadi ledakan. Namun warga tidak mengetahui pasti benda apa yang disentuh korban.
“Saya nggak lihat dia motong apa. Tahu-tahu suara keras, terus dia sudah tiduran nggak gerak,” kata Kholid.
Saat ditemukan, tubuh korban dalam posisi terlentang, tanpa ada respons sedikit pun.
“Iya, udah meninggal,” ujar Kholid lirih.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga Minggu malam, aparat kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara untuk memastikan sumber ledakan dan benda yang menyebabkan korban tewas di tempat.
Warga Ujung Harapan masih berkumpul di pinggir jalan, berbicara dalam suara pelan—membahas dentuman yang hanya berlangsung satu detik, tetapi cukup membuat seluruh kampung terdiam.***
Penulis : Clendy Saputra
Editor : Pratigto


























