BANDUNG, Mevin.ID – Pembangunan masif objek wisata di kawasan Ciwidey (Kabupaten Bandung) dan Lembang (Kabupaten Bandung Barat) kini berada dalam pantauan serius.
Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Pusat memperingatkan bahwa jika pertumbuhan wisata tidak segera dikendalikan, ekosistem hutan di dua wilayah vital ini terancam rusak permanen dalam 10 tahun ke depan.
Koordinator FK3I Pusat, Dedi Kurniawan, menyebutkan bahwa tren pembangunan mulai dari wahana bermain, vila, hotel, hingga kafe di Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung Selatan (KBS) sudah masuk tahap mengkhawatirkan.
Ancaman Bencana dan Kerusakan Ekosistem
Menurut Dedi, menjamurnya objek wisata yang sporadis seringkali mengabaikan aspek daya dukung lingkungan. Ia menyoroti beberapa poin krusial yang harus segera dievaluasi:
- Status Lahan: Banyak bangunan diduga berdiri di kawasan konservasi atau hutan lindung.
- Alih Fungsi Lahan: Berkurangnya area resapan air yang meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor.
- Persoalan Sanitasi: Pengelolaan sampah dan limbah dari sektor wisata yang belum terkendali.
“Kami melihat dalam satu dekade ke depan, kawasan KBU dan KBS sangat memungkinkan mengalami kerusakan ekosistem hutan yang parah serta kerentanan bencana yang meningkat jika pembiaran ini terus berlanjut,” tegas Dedi, Senin (12/1/2026).
Desak Gubernur Turun ke Lapangan
FK3I mendesak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk tidak hanya duduk di balik meja, tetapi segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengecekan teknis ke lapangan.
“Kami meminta Gubernur melakukan pengecekan langsung bersama para ahli lintas bidang. Jangan sampai pembangunan wisata ini liar dan sporadis tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi flora dan fauna khas Jabar,” tambahnya.
Tanggung Jawab Lintas Sektor
Kawasan Lembang dan Ciwidey selama ini dikenal sebagai paru-paru sekaligus menara air bagi wilayah Bandung Raya. FK3I menilai pengawasan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Tanpa adanya audit menyeluruh terhadap tata bangunan dan analisis dampak lalu lintas (andalalin), sektor wisata yang seharusnya menjadi mesin ekonomi justru bisa menjadi pemicu kehancuran lingkungan yang mematikan di masa depan.***
Penulis : Bar Bernad


























