SEMARANG, Mevin.ID – Komite Disiplin (Komdis) Asprov PSSI Jawa Tengah memberi pelajaran keras bagi pelaku kekerasan di lapangan hijau.
Kiper PSIR Rembang, Raihan Ably Valent (23), resmi dijatuhi sanksi larangan beraktivitas seumur hidup di dunia sepak bola, menyusul aksi tendangan brutalnya ke dada pemain Persikaba Blora, Rizal Dimas Agesta.
“Sanksi ini dijatuhkan secara bulat. Kami menilai tindakan kiper tersebut mengandung unsur kesengajaan yang membahayakan nyawa pemain lain,” tegas Ketua Komdis PSSI Jateng, Samuel Evan Haryono, dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (22/1/2026).
Selain hukuman seumur hidup, Raihan juga dikenai denda sebesar Rp5 juta. Keputusan ini diambil dalam sidang maraton yang digelar dari Selasa malam hingga Rabu dini hari, tanpa adanya perbedaan pendapat di antara anggota komite.
Komitmen “Zero Tolerance” dan Sanksi untuk Wasit
Samuel menegaskan, sanksi setegas ini merupakan bentuk komitmen zero tolerance PSSI Jateng terhadap segala bentuk anarkisme dan premanisme di sepak bola.
“Kami sangat menutup ruang bagi anarkisme untuk tumbuh. Sepak bola harus berkembang secara progresif dan aman bagi semua pihak,” ujarnya.
Tidak hanya pemain, perangkat pertandingan yang dinilai lalai dalam mencegah dan menangani insiden juga tidak luput dari hukuman.
Wasit utama dan asisten wasit 2 dijatuhi sanksi larangan bertugas selama satu tahun disertai kewajiban mengikuti pembinaan. Sementara asisten wasit 1 dan wasit cadangan mendapatkan peringatan keras.
Korban Sudah Dirawat Jalan, Respons PSIR Lambat
Korban, Rizal Dimas Agesta, sempat dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan rontgen dan perawatan akibat tendangan tersebut. Kondisinya kini telah membaik dan sudah bisa menjalani rawat jalan.
Komdis juga menyoroti lambatnya respons permintaan maaf dari kubu PSIR Rembang. Menurut Samuel, permintaan maaf resmi baru disampaikan melalui media sosial klub pada Rabu malam pukul 23.30 WIB, jauh setelah insiden terjadi dan video aksi brutalnya viral.
Sanksi terberat seumur hidup ini diharapkan menjadi efek jera yang kuat, sekaligus menegaskan bahwa sepak bola Indonesia tidak memberikan ruang sedikit pun bagi kekerasan yang dapat merusak integritas olahraga dan membahayakan keselamatan pemain.***
Editor : Atep K

























