Longsor Cilacap, Pelajaran Berharga Soal Literasi Kebencanaan

- Redaksi

Minggu, 16 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Tim gabungan melakukan operasi pencarian dan pencarian dalam bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11). (istimewa)

Foto : Tim gabungan melakukan operasi pencarian dan pencarian dalam bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11). (istimewa)

PADA 13 November 2025, bencana longsor mengguncang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Hujan lebat yang mengguyur sejak siang hari menyapu material tanah, pohon, dan batu, menimbun rumah-rumah warga.

Dalam hitungan menit, tempat tinggal yang selama ini dinikmati dengan damai berubah menjadi ladang puing dan duka.

Hingga berita ini saya tulis, 9 orang telah ditemukan meninggal dunia, 20 orang masih dinyatakan hilang, dan puluhan hektar sawah terkubur, menurut laporan resmi dari Basarnas dan BNPB.

Tragedi ini kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia hidup di atas ancaman berlapis — geologi dan hidrometeorologi — yang setiap saat menunggu untuk meluluhlantakkan.

Dari gempa dan tsunami, letusan gunung api, banjir bandang, hingga tanah longsor seperti di Cilacap, ancaman kebencanaan seakan menjadi bagian dari takdir geografis negeri ini.

Namun, apakah kerentanan itu harus diterima begitu saja? Ataukah kita sebenarnya tengah abai pada ikhtiar mitigasi dan kesiapsiagaan yang seharusnya menjadi prioritas nasional?

Ancaman yang Bukan Sekadar “Bencana Alam”

Sering kita menyebut bencana sebagai “bencana alam”, padahal sebagian besar kerusakan dan korban justru disebabkan oleh kerentanan sosial dan kurangnya kesiapsiagaan manusia.

Longsor di Cilacap adalah contoh nyata. Tidak ada sirene yang berbunyi. Tidak banyak yang tahu tanda-tanda pergerakan tanah sebelum longsor terjadi. Tidak ada jalur evakuasi, simulasi, ataupun titik kumpul aman yang menjadi bagian dari budaya warga.

Padahal, daerah ini sejak lama telah dikategorikan sebagai wilayah rawan longsor oleh peta mitigasi bencana nasional.

Di sinilah persoalannya: kita sering berpikir bahwa mitigasi adalah urusan “pemerintah” semata. Masyarakat cenderung menunggu, bukan mempersiapkan diri. Ketika bencana datang, baru kita sadar betapa minimnya pengetahuan dasar tentang cara menyelamatkan diri, mengamankan keluarga, dan merespons bahaya.

Padahal, dalam banyak kasus di Indonesia, kecepatan respons masyarakat sendiri justru menjadi penentu, jauh sebelum bantuan formal tiba.

Literasi Kebencanaan: “Vaksin” Paling Penting dalam Mitigasi Bencana

Literasi kebencanaan bukan sekadar mengetahui apa itu banjir, gempa, atau longsor. Ini soal bagaimana masyarakat memahami risiko di lingkungan mereka, mengenali tanda bahaya, memahami sistem peringatan dini, dan merancang langkah respons secepat mungkin — bahkan tanpa menunggu datangnya relawan atau pemerintah.

Dalam bahasa sederhana, literasi kebencanaan adalah kemampuan untuk mengenal ancaman, memahami risiko, dan bertindak cepat.

Sayangnya, literasi kebencanaan masyarakat di banyak daerah Indonesia masih rendah. Data BNPB menunjukkan bahwa sebagian besar korban bencana berada di wilayah yang telah dipetakan sebagai kawasan berisiko tinggi.

Itu artinya, ada kesenjangan antara pengetahuan tentang bahaya dan tindakan preventif di tingkat masyarakat.

Bencana longsor di Cilacap bisa menjadi momentum pembelajaran penting. Di wilayah pegunungan dan perbukitan, tanda-tanda longsor sering muncul sebelum bencana besar — retakan tanah, suara gemuruh, pohon miring, atau aliran air baru di permukaan tanah.

Dengan literasi kebencanaan yang baik, masyarakat bisa lebih cepat mengungsi, saling mengingatkan, bahkan memetakan jalur aman sendiri.

Desa Tangguh Bencana: Ide yang Baik, Pelaksanaan yang Butuh Serius

Pemerintah sebenarnya sudah meluncurkan program Desa Tangguh Bencana (Destana) sejak lebih dari satu dekade lalu.

Program ini pada dasarnya ingin membangun kemandirian desa dalam menghadapi risiko bencana — dengan langkah mulai dari pemetaan risiko, penyusunan rencana kontinjensi, pelatihan tanggap darurat, hingga simulasi berulang dan pembentukan tim relawan desa.

Namun, seperti banyak program pemerintah lainnya, tantangan terbesar dalam Destana sering ada pada implementasi.

Banyak desa mengikuti pelatihan sekali, lalu tidak ada tindak lanjut. Peta risiko dibuat, tapi tidak disosialisasikan. Relawan dibentuk, namun tidak pernah diuji dalam simulasi.

Di Cilacap, penelitian menunjukkan bahwa beberapa desa Destana masih belum memiliki rencana aksi yang lengkap dan sistem peringatan dini masih minim.

Ini bukan sekadar soal teknis — ini tentang memastikan bahwa program yang dilakukan benar-benar menyentuh kebutuhan warga dan membangun kesadaran kolektif.

Karena sebagus apapun kebijakan, jika hanya berhenti menjadi dokumen atau pelatihan formal tanpa internalisasi di masyarakat, itu akan menjadi simbol tanpa makna.

Bencana dan Tanggung Jawab Bersama

Longsor Cilacap adalah tragedi kemanusiaan, tetapi juga menjadi alarm bagi kita semua. Pemerintah harus lebih serius mengalokasikan anggaran untuk mitigasi, bukan hanya penanganan darurat.

Program Destana harus terus dipantau, dievaluasi, dan diperkuat, bukan sekadar dilaporkan sudah “ada” di desa tertentu. Sekolah-sekolah di daerah rawan perlu memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum, agar generasi muda tidak tumbuh dalam ketidaktahuan.

Sementara itu, kita sebagai bagian dari masyarakat juga harus mengambil peran. Jangan anggap pelatihan kebencanaan sebagai formalitas.

Jangan biarkan peta risiko menguning di papan balai desa. Dan jangan tunggu sirene bencana; kenali lingkungan sekitar, bangun komunikasi warga, dan jadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, seperti halnya saat kita dilindungi lumpur longsor, nyawa kita sering kali bergantung pada pilihan kita sendiri dalam menyiapkan diri — bukan sekadar menunggu datangnya pertolongan.***

Dadang Sudarja, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama Jawa Barat (LPBI NU – JABAR),Ketua Dewan Nasional WALHI Periode 2012 – 2016,Direktur Yayasan Sahabat Nusantara Anggota Dewan Pakar Forum POSGAB, Anggota Dewan Sumberdaya Air Jawa Barat, Pegat Lingkungan dan Bencana.

Facebook Comments Box

Penulis : Dadang Sudardja

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias
Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia
Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara
Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara
Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial
Amarah, Api yang Menghanguskan dan Pemicu Perubahan
Bencana Antropogenik Sumatera 2025: Luka yang Dibuat, Bukan Ditakdirkan
Al-Kindi: Sang Filsuf Arab Pertama Penjaga Gerbang Akal dan Wahyu

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:35 WIB

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:58 WIB

Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:09 WIB

Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara

Senin, 15 Desember 2025 - 21:06 WIB

Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara

Senin, 15 Desember 2025 - 10:24 WIB

Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial

Berita Terbaru