Indramayu, Mevin.ID — Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI) PW Nahdlatul Ulama Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk mendukung perjuangan masyarakat Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, yang selama lebih dari satu dekade menghadapi dampak banjir rob dan kerusakan lingkungan pesisir.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kunjungan LPBI PW NU Jawa Barat ke Eretan Wetan pada Jumat, 12 Desember 2025. Rombongan LPBI PW NU Jawa Barat diwakili langsung oleh Ketua Dadang Sudardja dan Sekretaris Muhammad Hiqal Fahrurozi.
Dalam kunjungan tersebut, LPBI PW NU Jawa Barat bertemu dengan sekitar 30 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Desa Eretan Wetan dan Forum Pemuda Peduli Lingkungan. Pertemuan berlangsung di Kopilink, yang menjadi sekretariat bersama kedua organisasi masyarakat tersebut.
Hadir dalam pertemuan itu Ketua Aliansi Masyarakat Desa Eretan Wetan, Supriyanto, perwakilan Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Barat, jajaran pengurus Forum Pemuda Peduli Lingkungan, tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok perempuan dan nelayan. Di antaranya Ibu Satira dan H. Masnun yang mewakili suara masyarakat nelayan Eretan Wetan.
Ketua LPBI PW NU Jawa Barat, Dadang Sudardja, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk nyata solidaritas dan keberpihakan LPBI NU terhadap perjuangan warga dalam mempertahankan hak hidupnya.
“Selama kurang lebih 10 tahun, masyarakat Eretan Wetan hidup berdampingan dengan banjir rob yang terus merusak lingkungan. Dampaknya bukan hanya pada kerusakan wilayah tempat tinggal, tetapi juga pada sumber penghidupan, kesehatan ibu dan anak, pendidikan, hingga tatanan sosial dan budaya masyarakat,” ujar Dadang.
Supriyanto, H. Masnun, dan Ibu Satira mengungkapkan ironi kondisi Desa Eretan Wetan saat ini. Pada 1992, desa tersebut pernah menerima penghargaan dari Presiden Soeharto sebagai daerah penghasil ikan budidaya dan tangkap. Namun kini kondisinya berbanding terbalik.
“Banyak nelayan tidak lagi bisa melaut karena wilayah tangkapan ikan rusak akibat praktik penangkapan menggunakan kapal trawl dan cantrang. Cara operasi alat tangkap ini menyapu dasar laut, menghancurkan terumbu karang, ikan-ikan anakan, hingga spesies yang dilindungi,” kata Supriyanto.
Akibat kondisi tersebut, banyak keluarga nelayan terjerat utang demi bertahan hidup. “Kami terpaksa gali lubang tutup lubang, meminjam ke Bang Emok untuk sekadar menyambung hidup,” ungkap H. Masnun.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran mendalam warga terhadap masa depan generasi Eretan Wetan. Menyikapi hal itu, Dadang Sudardja mengajak masyarakat untuk terus bersatu dan berjuang secara kolektif.
“Masyarakat berhak atas lingkungan hidup yang sehat dan kehidupan yang layak. Negara memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak dasar warga, mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga kesejahteraan,” tegasnya.
LPBI PW NU Jawa Barat menyatakan siap menjadi bagian dari upaya advokasi dan penguatan masyarakat Eretan Wetan agar perjuangan mereka mendapatkan perhatian dan tanggung jawab negara secara nyata.***

























