Karawang, Mevin.ID – Banjir kembali menghantam Karawang. Sabtu (6/12/2025), air dari Sungai Citarum dan Cibeet tak lagi mampu dibendung, merembes masuk ke permukiman, sawah, hingga jalan raya. Sedikitnya 316 rumah terendam, dan 1.224 jiwa harus mengungsi ke empat titik aman yang didirikan pemerintah daerah dan relawan.
Di Desa Karangligar, Telukjambe Barat, ketinggian air bervariasi antara 20 sentimeter hingga satu meter. Rumah-rumah terlihat seperti pulau kecil yang dikepung air keruh, sementara akses jalan berubah menjadi kanal.
Menurut Kaming, petugas BPBD Karawang, banjir kali ini merupakan kombinasi dari curah hujan tinggi dan luapan dua sungai utama di wilayah tersebut. “Permukiman, sawah, dan jalan raya ikut tergenang. Debit air di Citarum dan Cibeet masih siaga,” ujarnya.
Banjir tidak hanya datang dari hulu. Wilayah pesisir utara Karawang juga diterjang banjir rob, menandakan tekanan ganda bagi warga yang sudah berjibaku dengan genangan sejak beberapa hari terakhir.
Hingga Sabtu petang, ketinggian air belum menunjukkan tanda surut. Tim SAR gabungan—BPBD, Tagana, TNI, dan Polri—terus mengevakuasi warga menggunakan perahu karet. Anak-anak, lansia, dan keluarga dengan balita diprioritaskan. Sejumlah titik pengungsian seperti halaman kantor desa, masjid, dan kantor kewilayahan telah disiapkan, lengkap dengan tenda darurat dan dapur umum.
Pemantauan BPBD hingga pukul 18.00 WIB menunjukkan debit Sungai Citarum dan Cibeet tetap berada pada status siaga, sementara potensi hujan masih tinggi. Petugas memilih tetap bersiaga penuh untuk mengantisipasi kemungkinan naiknya permukaan air malam hari.
Bencana ini kembali menegaskan rapuhnya Karawang terhadap luapan sungai—sebuah masalah yang muncul berulang, setiap kali alam mengetuk dengan intensitas hujan yang tak menentu.***


























