Majalengka, Mevin.ID — Pagi di Majalengka tak lagi hanya diwarnai aroma tanah basah dan bunyi cangkul yang menghantam pematang sawah.
Dalam tiga tahun terakhir, pemandangan itu perlahan bergeser: ribuan warga kini berangkat ke pabrik, bukan ke ladang.
Kabupaten yang lama dikenal sebagai lumbung pertanian Jabar bagian timur ini sedang mengalami perubahan besar—dan angkanya berbicara lantang.
Data terbaru BPS Majalengka menunjukkan lonjakan pekerja di sektor manufaktur dari 166.571 orang (2022) menjadi 234.146 orang (2025). Lonjakan terbesar bahkan terjadi hanya dalam satu tahun pertama, ketika 38.062 warga beralih profesi ke industri.
Ekspansi kawasan industri di utara dan tengah Majalengka, ditambah rantai produksi yang kian kompleks, membuat pabrik menjadi magnet baru bagi penduduk usia produktif.
Sawah Surut, Pabrik Menyala
Beralihnya masyarakat dari pertanian ke industri bukan sekadar pilihan, melainkan konsekuensi zaman. Meski jumlah pekerja pertanian sempat naik secara teknis pada Agustus 2025, porsi sektor ini tetap menyusut: dari 24,32% (2022) menjadi 21,44% (2025).
Fragmentasi lahan, biaya produksi yang naik, hingga pola kerja tradisional membuat pertanian sulit bersaing dengan kepastian gaji bulanan di pabrik.
“Peluang kerja industri memberikan stabilitas baru bagi warga produktif,” ujar Kepala BPS Majalengka, Joni Kasmuri.
Generasi Muda Pilih Industri
Satu perubahan penting adalah pergeseran aspirasi. Generasi muda Majalengka kini memandang pabrik sebagai ruang mobilitas sosial: ada jenjang karier, ada kepastian pendapatan.
Meski sektor jasa tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar (354.728 pekerja pada 2025), porsinya justru turun. Manufaktur bergerak lebih cepat, menyedot tenaga kerja dalam volume besar.
Secara total, jumlah penduduk bekerja melonjak dari 617.320 orang (2022) menjadi 749.551 orang (2025)—sebuah pertumbuhan yang sebagian besar disumbang industri pengolahan.
Buruh Formal Meningkat, UMKM Tidak Stabil
Data juga menunjukkan formalitas kerja meningkat pesat. Jumlah buruh/karyawan/pegawai naik dari 183.666 (2022) menjadi 249.502 (2025). Industri, jelas Joni, adalah motor utama tren ini.
Sebaliknya, pekerja mandiri atau pelaku UMKM justru mengalami fluktuasi tajam—naik, turun, lalu naik lagi. Kondisi ini mencerminkan tantangan UMKM yang masih harus bertahan di tengah permintaan yang tidak stabil dan kompetisi yang kuat.
Pekerja keluarga atau yang tidak dibayar juga bertambah, sebuah sinyal tekanan ekonomi yang memaksa rumah tangga memobilisasi tenaga internal agar bisa bertahan.
Pola Pendidikan: SMK Turun, SD Justru Naik
Ada temuan menarik pada komposisi pendidikan tenaga kerja. Setelah dua tahun bertumbuh cepat, lulusan SMK yang masuk industri justru turun pada 2025.
Sebaliknya, lulusan SD ke bawah meningkat, menunjukkan bahwa pekerjaan dasar masih menjadi tulang punggung banyak sektor ekonomi Majalengka. Transformasi berlangsung, tapi tidak merata.
Majalengka Bergerak Menjadi Kota Industri
Menurut Joni, transformasi Majalengka bukan kejutan; ia hasil dari proses bertahun-tahun: perluasan kawasan industri, akses menuju Bandara Kertajati, hingga derasnya investasi.
Namun, lonjakan pekerja manufaktur tiga tahun terakhir menjadi tanda arah baru ekonomi daerah.
“Jika tren ini berlanjut, struktur ketenagakerjaan Majalengka ke depan akan semakin bertumpu pada sektor industri,” ujarnya.
Dengan kata lain: Majalengka perlahan melepas tradisi lamanya sebagai wilayah agraris.
Pabrik-pabrik yang menyala di pagi hari kini menjadi ritme baru kehidupan—mengubah cara warga bekerja, cara mereka melihat masa depan, bahkan cara Majalengka mengenali dirinya sendiri.***
Penulis : Bar Bernad


























